“Dua anak lebih baik?”

Ceritanya awal  Agustus lalu pulang ke Batam. Dalam perjalanan (lupa kemana) terbaca oleh saya tulisan di buntut salah satu bus yang sepertinya diamanahkan untuk mempromosikan program KB pemerintah, “Dua anak lebih baik.” Kontan saya yang memiliki kartu anggota Komunitas Lajang Pendukung Banyak Anak (KLPBA) menambah-nambahkan (di dalam hati) “Seharusnya tulisan dibawahnya tambah lagi “Sepuluh anak berkualitas lebih baik lagi.” Dan tanpa konsultasi dengan Presiden RI dan Mentri Pemberdayaan Wanita dan Anak, saya langsung melaporkan kejadian tidak menyenangkan ini ke akun multiply saya –> http://rabytah.multiply.com/notes/item/218

Beberapa komentar  :

-       “makin bnyk makin baik.asal sanggup “

-       “Tapi perencanaannya harus mateng. Mau anak 10 tapi ga mau nikah muda kan jadi susah tuh.. Malah ga berkualitas..”

-       “Dua anak lebih, baik.”

-       “Dua anak setelah anak ke delapan, lebih baik.”

-       “Sebelas deh…semoga dari satu istri…amin..”

Mungkin ada beberapa dari kita yang belum tau (atau sudah tau tapi lupa), program KB (Keluarga Berencana) sejatinya merupakan salah satu butir protokol Freemasonry Internasional yang disebut dengan Program Onan. Yaitu mengekang pertumbuhan bangsa Ghoyim/Gentile (bangsa selain Yahudi). Hal ini juga sesuai dengan kitab setan yang mereka pakai sebagai kitab “suci” sekarang, Talmud, “Angka kelahiran orang-orang non-Yahudi harus ditekan sekecil mungkin.” (Zohar II, 4B).

Padahal dalam sebuah Hadits Rasulullah menyuruh ummatnya agar memiliki keturunan yang banyak agar kelak bisa dibanggakan Rasulullah shallallahu’alahi wasallam diantara umat Nabi-Nabi yang lain.

Mu’qil bil Yassar melaporkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Nikahilah wanita yang penyayang dan subur keturunannya karena sesungguhnya aku akan membanggakan banyaknya jumlah kalian di hadapan para nabi yang lain pada hari kiamat nanti”.

At-Tabrani dari bukunya yang berjudul Al Mu’jam Al Kabeer, bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Menikahlah agar kamu mempunyai banyak keturunan (keluarga besar).”

Proyek KB pemerintah Indonesia justru kebalikan dari Pemerintah Setan Yahudi yang sedang menjajah Palestina saat ini. Salah satu poin lain dari program Onan justru menyuburkan perempuan-perempuan Yahudi agar memiliki banyak keturunan. Benar-benar terbalik dengan pemerintah kita yang sangat giat mendukung program KB.

Tentulah ini bukan hanya soal kuantitas (jumlah) saja, tapi juga bagaimana mencetak jundi/yah berkualitas. Untuk mencetak anak-anak yang berkualitas tentu saja berhubungan erat dengan kualitas orang tuanya.

“Pendidikan anak adalah tugas terintegrasi antara Ayah dan Ibu. Sang Ayah haruslah seseorang yang memiliki visi besar tentang pendidikan dan Ibulah yang akan menjalankan misinya, mengisi kerangka. Pendidikan anak bukanlah tanggung jawab seorang Ibu saja. Pendidikan anak adalah tanggung jawab orangtua. Ayah adalah peletak dasar pertama dan pemberi arah bagi pendidikan anak dan keluarganya. Baru setelah itu, Ibu menjadi pelaksana bagi konsep dasar dan filosofi dari pendidikan anak ditengah-tengah keluarga.” (Ust. Mutamimul ‘Ula – Bu Wirianingsih).

Kuncinya sebelum menikah, setiap kita, harus memiliki konsep dan visi yang jelas ketika berumah tangga nanti, akan kemanakah kelak biduk keluarga itu diarahkan. Masa Pra-Nikah ini harus kita persiapkan matang dan terencana, karena untuk mencetak generasi Qur’ani bukanlah perkara yang mudah. Akan memerlukan kematangan ruhiyah dan jasadiyah.

Yang perlu kita ingat adalah bahwa rumah dan keluarga merupakan madrasah pertama anak-anak, dan Ayah Ibu nya adalah guru pertama bagi mereka. Sebelum menjadi orangtua (maupun ketika kita telah menjadi orang tua) diri kita sendiri lah yang pertama kali harus telah terbina dengan baik, atau dengan kata lain, terlebih dahulu kita harus mendidik diri sendiri (tarbiyah dzatiyah) untuk menjadi berkualitas. Anak-anak akan mencontoh orangtuanya. Karena itu, selain ucapan/anjuran, tauladan sikap merupakan perkara terpenting.

Selamat belajar =]

“Memilih pasangan bukan semata persoalan duniawi tetapi sebuah investasi akhirat.” -Ust. Tamim dan Bu Wirianingsih-

“Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi ini melainkan. Allahlah yang memberi rizkinya” (QS Hud : 6)

Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. ” (QS. ath-Thalaq: 2-3)

“Dan janganlah kamu membunuh anak- anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. ” (QS. al-Isra’: 31)

di Bumi, 22 Agustus 2010 [10.00 am]

http://rabytah.multiply.com/journal/item/93

About these ads

8 thoughts on ““Dua anak lebih baik?”

  1. ira,,
    like this..
    kok lg sama nih yg kita pikirkan,,
    baru aja kmrn ngebahas mslh KB,,
    setuju bgt ra..
    tgs kita di masa2 pra nikah ini harus mpersiapkan diri dg matang..
    agar kelak mampu mengemban amanah untk menjadi murabbi/yah pertama bagi mujahid/ah dan mencetak generasi Qur’ani yang insya Allah akan berada dalam barisan penegak dienul Islam sebagai penggerak pembaharuan ( mujadid )…. Amin..

    >> Jom Nikah..!!! hehe

  2. barakallahu fiik wa ilmik, harusnya tulisan ini diserahkan Presiden RI dan Mentri Pemberdayaan Wanita dan Anak, sebagai nasihat untuk mereka. siapa tahu mereka mau rujuk, gimana mbak, setuju? salam kenal..

  3. Sebenarnya semboyan KB dari pemerintah itu sudah benar Mbak, asal tepat dalam meletakkan tanda komanya. Perhatikan: “Dua anak lebih, baik”. Berarti maknanya, yang disebut baik itu Dua anak lebih, atau dg kata lain minimal dua anak…. :-D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s