Dari Perbatasan : Tour de Penyengat Island (Kepulauan Riau)

Alhamdulillah 3 Desember 2011 lalu diberi kesempatan mengunjungi kembali Pulau Penyengat. Pulau ini merupakan salah satu tempat mungil nan bersejarah yang terletak di sebelah barat Ibukota Provinsi Kepulauan Riau, Tanjung Pinang. Kali ini kunjungan (sudah) dengan status berbeda, married 

ImageSedikit mengulik sejarahnya, Pulau Penyengat dahulu merupakan pusat pemerintahan, pengembangan agama Islam, kebudayaan Melayu dan juga merupakan pusat pertahanan negeri Kerajaan Riau. Kerajaan Riau merupakan penerus dari Kesultanan Malaka yang jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511.

Alkisah, Pulau ini sudah lama dikenal oleh Para Pelaut berabad-abad lalu sebagai tempat persinggahan untuk mengambil persediaan air tawar.

Menurut legenda, nama“ Penyengat” diberikan karena pernah Pelaut-pelaut yang sedang mengambil air bersih diserang semacam lebah di Pulau itu, dalam bahasa setempat disebut “Penyengat”. Sejak itu pulau ini disebut Pulau Penyengat. Saat diresmikan sebagai pusat pemerintahan Kesultanan Melayu, pulau ini diresmikan dengan nama “Pulau Penyengat Indera Sakti”. (R. Hamzah Yunus, Sejarah Pulau Penyengat, UNRI Press)

How to reach Penyengat Island?

ImageKalau dari Batam (Pelabuhan Telaga Punggur), ke Tanjung Pinang dulu. Naik ferry kira-kira 1 jam perjalanan, dengan ongkos PP (Pulang-Pergi) Rp. 85.000,- sudah termasuk pass pelabuhan.

Kemudian dilanjutkan dari Tanjung Pinang (Dermaga khusus) ke Pulau Penyengat. Dengan menggunakan Pancung (sejenis sampan yang ada mesin tempel dibelakangnya). Perjalanan dari dermaga ke pulau Penyengat memakan waktu 10 menitan, dengan ongkos Rp 5.000,- per orang (24 jam).

Setelah sampai disana, kita sudah disuguhkan dengan warna khas Melayu, hijau dan kuning. Pulaunya kecil, nyaman, jalannya pun jalan batu (jalan setapak), jadi untuk mengelilingi Pulau pun bisa jalan kaki, naik sepeda apalagi. Bisa juga dengan menggunakan becak yang biasanya sudah menawarkan diri disekitar dermaga. Tarifnya Rp 25.000,- sekali keliling, dan dengan senang hati biasanya Pak Cik Becak nya bantuin foto-foto hehe Pak Cik-Pak Cik ini juga punya fungsi ganda, selain Pemandu juga ngrangkap sebagai historian dadakan, dengan semangat mereka bercerita tentang peninggalan-peninggalan di Pulau mereka itu. Tapi kalau mau puas bisa dengan jalan kaki aja.

ImageNah, karena judulnya memang sisa-sisa peninggalan Kesultanan Melayu, ga heran banyak makam-makam tempo dulu yang bisa kita temukan disini, termasuk banyak reruntuhan bangunan. Sampai-sampai di semak hutan nya pun ada makam-makam juga.

Dahulunya satu Pulau ini memang pusat pemerintahan. Jadi ga heran juga banyak bangunan-bangunan istana dan rumah-rumah kerajaan  yang sekarang tinggal puing-puing di sekitarnya. Termasuk makam-makam. For your information, seluruh bangunan lama di Pulau ini dibangun dengan menggunakan Putih Telur sebagai campuran.

Masjid Raya Sultan Riau

ImagePeninggalan pertama yang akan kita temukan saat berpijak di Pulau ini adalah Masjid Raya Sultan Riau Pulau Penyengat. Masjid ini didirikan pada tanggaImagel 1 Syawal 1249 H (1832 H). Masjid ini satu-satunya bangunan yang sepertinya masih lengkap dibanding situs lainnya. Arsitektur Masjid masih asli, begitupun ornamen didalamnya. Dalam riwayat lain Masjid ini dibangun dengan menggunakan Putih Telur sebagai campuran kapur untuk memperkuat beton kubah. Didalamnya juga masih tersimpan kitab-kitab dan foto-foto lama. Wangi tahun 1800’an masih terasa.

Oya, didalam Masjid dilarang berfoto-foto dan handphone harus di-silent. Saat masuk Masjid juga penjaganya biasa langsung nyuruh pengunjung shalat sunat daripada planga-plongo dulu keliling Masjid. Selain itu, sebelum masuk gerbang Masjid, sudah terpampang tulisan “Tidak diizinkan masuk bagi yang tidak berpakaian sopan dan rapi.” Tapi ukuran sopan dan rapi sepertinya setiap orang beda-beda ya Soalnya pas saya masuk sama suami, masih ada yang cuma pake kaos dan celana ketat. Beda banget waktu saya (masih single waktu itu *penting hehe) mengunjungi beberapa situs sejarah di Aceh Darussalam. Salah satunya Makam Syaikh Syiah Kuala, guider saya yang sebenarnya sudah pakai baju muslimah, karena bawahannya celana kulot, disuruh pakai sarung (sudah disediakan penjaganya). Padahal ke makam itu, apalagi ke Masjid yak.

ImageGerbang Depan Masjid

Image

Halaman Depan Masjid

Makam Engku Putri (Raja Hamidah), PermaisuriSultan Mahmud

ImageDahulunya merupakan bangunan yang memiliki atap bertingkat-tingkat dengan hiasan indah. Pada pemugarannya kemudian hari disederhanakan menjadi seperti sekarang ini. Mungkin anggarannya juga sederhana kali ya 

Didalam nya juga terdapat makam Raja Ahmad (Penasihat Kerajaan), Raja Ali Haji Fisabilillah (Pujangga Kerajaan, Penulis Gurindam 12), Raja Haji Abdullah (Yang Dipertuan Muda Kerajaan Riau-Lingga IX) dan istrinya Raja Aisyah (Permaisuri), serta kerabat Engku Puteri lainnya.

Mengenal Engku Puteri. Engku Puteri adalah wanita berpengaruh dizamannya, dikenal dalam sejarah Riau-Lingga, Johor dan Pahang. Memiliki pengaruh kuat dalam keputusan kerajaan, dan juga pejuang dalam pertempuran melawan Belanda bersama Raja Ali Haji (1782-1784). Ia merupakan istri dari Sultan Mahmud. Pernah mengembara hingga daerah Sekudana dan Mempawah (Kalimantan Barat). Dan akhirnya meninggal dunia dan dimakamkan di Pulau Penyengat pada Juli 1844. Namanya kini diabadikan sebagai nama jalan dan Alun-alun di Kota Batam.

Makam Raja Jaafar  Yang Dipertuan Muda Riau-Lingga Johor dan Pahang IV (1805-1832)

ImageRaja Jaafar dikenal juga dengan nama Marhum Kantor. Masa pemerintahannya merupakan masa-masa sulit karena berada ditengah-tengah masa transisi perebutan supremasi kekuasaan barat (Inggris dan Belanda).

Dahulu bangunan ini merupakan bangunan indah dengan pilar-pilar, kubah-kubah dengan ukiran timbul, dan kolam air wudhu yang megah (dulunya Masjid). Nyaris hancur karena tidak ada usaha perbaikan dari Pemerintah. Pemugaran baru dilakukan pada tahun 1981.

Gedung Mesiu (Gedung Obat Bedil)

Dahulunya ada 4 buah Gedung, sekarang tinggal 1 buah, lainnya musnah tinggal bekas-bekasnya. Masuk ke dalam ademnya ga perlu AC, soalnya beneran ternyata dindingnya tebel 1 hasta. Pada masanya dulu digunakan sebagai tempat penyimpanan mesiu atau orang melayu bilang “obat bedil”.

 ImageGedung Mesiu

BUKIT KURSI

ImageDi bukit kursi terdapat beberapa makam, diantaranya makam Raja Abdul Rahman (Yang Dipertuan Muda Riau VII), makam M. Arifin (Datuk Perdana Menteri Kerajaan Indera Giri Hulu), serta Benteng-benteng dan Parit Pertahanan (tinggal sisa-sisa). Nyaris rusak berat karena kurang terawat, hingga akhirnya diadakan proyek  pemugaran pada tahun 1982.

Sejumlah pucuk meriam yang sebelumnya ditempatkan di benteng-benteng tersebut pada tahun 1930’an telah di angkut ke Temasek  (Singapura), dijual sebagai besi tua oleh Pemerintah Belanda. Sebagian di angkut ke Tanjung Pinang sebagai hiasan di pinggir-pinggir jalan dan disekitar kantor pemerintahan. Bujug, padahal dulu buat perang ya 

Istana Kantor

Istana ini dibangun oleh Raja Ali Yang Dipertuan Muda Riau VIII (1844-1857). Disebut Istana Kantor karena untuk pertama kalinya dalam Kerajaan Riau Istana difungsikan sebagai kantor juga. Kondisi bangunan bisa anda lihat seperti dibawah ini.

Kompleks Istana Kantor

Masih banyak lagi sisa-sisa peninggalan di Pulau Penyengat. Di antaranya Bekas Gedung Tengku Bilik (Istri dari Tengku Abdul Kadir), Bekas Istana Sultan Abdul Rahman Muazam Syah, Bekas Gedung Rusydiah Klab dan Percetakan Kerajaan (Percetakan Mathba’atul Riauwiyah), Bekas Gedung Engku Haji Daud (Tabib Kerajaan), Makam Raja Haji Teluk Ketapang (Yang Dipertuan Muda Riau-Lingga Johor dan Pahang VI, Ayah dari Engku Puteri Raja Hamidah), Makam Habib Sekh (ulama di zaman Kerajaan Riau), Taman Pantai (dimasanya merupakan sarana rekreasi megah kerajaan, sekarang puing), dan bangunan-bangunan kerajaan lainnya.

Namun seperti judulnya, sisa-sisa. Ada yang sudah rata dengan tanah, tertutup semak-semak, puing-puing, dan kondisi memprihatinkan lainnya. Padahal potensi wisata di daerah ini, dan juga Kepulauan Riau umumnya sangat besar dari sektor pariwisata.

Oleh-oleh

ImageDi Penyengat jangan lupa beli Otak-otak ya. Udah rasa. Enaaakkk…..Saya dan suami sampai habis 10 tangke. Harganya Rp 1.000/ biji, kalau di Tanjung Pinang ada juga yang jual Rp 500,-/biji.

Tanjung Pinang dan sekitarnya memang gudangnya Otak-otak. Pusat penjualannya bisa  ditemukan di pinggir-pinggir pelabuhan. Pokonya kalo dari Pinang pasti yang ditanyain, “otak-otaknya mana?”

Oleh-oleh lainnya biasanya kerupuk ikan, souvenir khas melayu dan kerajinan penduduk setempat. Bisa dibeli di tempat souvenirnya atau di pinggir-pinggir jalan. Selain itu daerah Kepulauan Riau terkenal dengan Kuliner Lautnya.

And at last but not at least, Alhamdulillah, mungkin karena itu ya kita dianjurkan utuk bersafar (melakukan perjalanan). Menambah wawasan, banyak ide dan ilmu yang didapat, ukhuwwah yang tersambung, dan otak kembali fresh.

Berikut beberapa momen yang terekam di-camera. Enjoy Riau Archipelago! 

 

Dermaga di depan Balai Adat

Perkampungan Nelayan Pulau Penyengat

Salah satu sudut kota Tanjung Pinang

Balai adat

Dalam Balai Adat

 Ujung Perbatasan, 05 Desember 2011

Awak faham ke?

Bukan iseng. Sekedar berbagi. Soalnya beberapa hari yang lalu saya sempat nge-post beberapa tulisan bahasa melayu ternyata ada yang kurang (dan tidak) mengerti. Padahal saya nulisnya dengan bahasa melayu yag nge-pas banget (_ _!) Tapi beberapa bahasa yang saya tau memang semuanya “kadar”nya NGEPAS jiddan 8) Sebenarnya bahasa melayu ga’ susah-susah banget, soalnya masih serumpun dengan bahasa Indonesia. Yang saya share cuma sedikit dan itu juga bahasa sehari-hari aja (ada juga bahasa slank nya), ga’ semuanya baku (saya malah ga’ tau mana bahasa melayu baku mana yang bukan) (-,-“)

Kemudian, sebagai tambahan, sekedar “you-know” aja, pada umumnya di daerah provinsi Kepulauan Riau (Kepri) bahasa pengantarnya bahasa melayu, kecuali di Batam, bahasa pengantarnya bahasa Indonesia. Walaupun di Batam ada suku Melayu asli, tapi rata-rata penduduknya adalah pendatang alias perantau dari seluruh pelosok dunia. Beda dengan daerah di Kepri lainnya, contohnya di Karimun dan Tanjung Pinang (Ibukota Kepri). Meskipun penduduknya ada juga yang pendatang (walo ga banyak) dari jawa, batak, sunda, aceh, sulawesi, bahkan tionghoa, tapi tetep aja mereka menggunakan bahasa melayu sebagai bahasa sehari-hari.

Ada banyak kekurangan yang saya sampaikan (jadi tolong ditambahin). Soalnya saya juga baru-baru ini belajar bahasa Melayu, sejak ditugasin di Karimun. Itu juga berdasarkan hasil mendengar dan pengamatan, bukan les khusus. Jadi mungkin banyak kurang sana-sini. Secara garis besar,  ga susah memahaminya, karena ya itu tadi, hampir sama dengan bahasa kita. Check these out. :D

-          Saye/awak/aku = saya/aku

Lebih halusnya pake “saye” atau biasanya orang sini menggunakan “NAMA SENDIRI” kalo bicara dengan yang lebih tua, bahkan dengan yang seumuran. Hampir ga ada yang ber”aku-kamu” (kecuali pendatang dari luar Sumatra), apalagi ber”lo-gue”, dinilai cenderung kasar, bisa-bisa alis orang sini naek sebelah ente pake “lo-gue-lo-gue”. Kecuali di Batam juga ya, like i said, penduduknya rata-rata perantau dari seluruh dunia. Kalo di Batam, mau ngomong bahasa daerah sendiri, ya dengan sesama orang sendiri aja. Oya, “awak” juga bisa berarti “kamu”, dan bisa juga berarti “orang”,  tergantung penggunaan. Misalnya : Awak kita = orang kita ; Awak Batak = orang batak.

-          Mike/ikak/awak/engkau/kau = kamu/engkau

Umumnya pake mike/awak/engkau. Tapi kalo di Dabo Singkep (Daik Lingga) untuk “kamu” yang dipake “ikak”. Kalo di Karimun, Batam, dan Bintan ada yang tetep pake “mike” ada juga yang pake “awak”. “Awak” juga dipergunakan di Malaysia sebagai kata ganti “kamu”. Tapi JANGAN sekali-kali pake kata-kata ini sama orang yang lebih tua dari kita, TIDAK SOPAN, alias orang sini bilang GA PUNYA ADAT! Kalo ngomong sama yang lebih tua bisa dengan sebutan gelar-panggilan-nya, misalnya : Pamanda, Pak Cik, Mak Cik, Atok, dll.

Trus kalo di Batam sendiri, biasa bahasa slank nya “kamu” = “ko” (tapi ni ngomongnya bukan sama orangtua ya, siap-siap dilempar ke laut), sama seperti di Medan. Kalo “ko” ini bisalah dipake dengan yang seumuran, tapi saya sendiri hampir ga pernah pake).

-          Nak/hendak = mau/ingin (ex : Rase nak pengsan = Rasanya mau pingsan ; Saye nak makan = saya mau makan)

-          Tak nak/tak ndak (hendak) = tak mau/nggak mau

-          Keje = Kerja (contoh : Die nak pegi keje ke Telok Ume = Dia mau pergi kerja ke Teluk Uma)

(nah, orang melayu kalo ngomong “R”nya sengau, alias ga’ kebaca alias samar gitu, jadi jangan heran ntar kalo kemari. Bukan karena ga bisa bilang “R”, tapi emang dialeknya begitu)

-          Penat = capek/lelah (ex : penat nyeee… = capek nyaaa…)

(oya, pembacaan “e” nya orang melayu tu halus ya, seperti “e” pada kata “kangen”, BUKANé” pada kata “café”)

-          Sekejap = sebentar (jarang aja disini denger orang ngomong pake “sebentar”, biasanya “sekejap”. Contoh : sekejap ye = sebentar ya)

-          Bole kene tahan! = boleh tahan! (kene = kena)

-          Kasot (kasut) = sepatu

-          Padam muke! = rasain!/ malu kan!

-          Tido = tidur (ex : saye nak tido = saya mau tidur)

-          Iye/ye = iya/ya

ex : iye ke? = iya kah?

iye, Mak. = iya, Mak.

Ye lah = ya lah

-          Ape hal?/ade ape? = ada apa?

-          Tak/Tidak = Tidak/nggak (“nggak” / “gak” tu cuma di Indonesia. Ex : Tak suke = ga’ suka)

-          Tak ade/ade = ga ada/ada (ex : Tak ade mase = ga ada waktu)

-          Mane ade = ga ada/tak ada (ex : mane ade lah = ga ada lah)

-          Ngape ( Kenapa/Mengapa) ; Berape (Berapa) ; Siape (Siapa) ; Ape (Apa) ; Bile (Kapan)

-          Aje = aja/saja (kadang disingkat “Je”. Ex : Satu aje = satu saja)

-          Macam/cam = seperti/kayak (ex : macam orang gile aje= seperti orang gila saja ; cam betol je mike ni = macam betul aja kamu ini)

-          Macam pulot = kayak pulut (sebenernya ini ungkapan sih, saya juga ga ngerti maksud spesifiknya apa, yang jelas kalo orang melayu melihat “kelebay-an” terjadi, ngomongnya ini à macam puloot!

-          Hay = ini juga sebenernya kaya’ kata tambahan gitu sih, misalnya = “engkau ni hay, ngape pulak tak bekasot cam tu.” (kamu ini, kenapa pula ga bersepatu kaya’ gitu). Contoh lain : jangan gitu la hay ; alahay ; tak ade hay.

-          Cakap = bicara/ngomong (ex : becakap-cakap = ngobrol ; cakap lah = ngomong lah ; nak cakap ape? = mau bicara apa?)

-          Pasal = masalah/soal ( ex : bukan pasal tu yang awak cakap = bukan soal/masalah itu yg aku bicarakan)

-          Abang = Abang/Kakak (biasa ada juga kan yang panggil Laki-laki tetep Kakak/kak, misalnya kaya’ saya manggil : Kak Seto, Kak Luthi, dll. Nah, kalo di tanah melayu panggilan Kakak CUMA buat PEREMPUAN). Panggil Abang juga bisa Kakande/Kande. Saya sendiri juga ga’ pernah pake Kanda-kanda-an, yang saya panggil bisa mimisan 8)

-          Kakak/Akak/Ayunde/Yunde = Kakak

-          Bilek (bilik) = kamar

-          U jadi O atau yang terdengar seperti “O” = Contoh : Kampong (kampong), bungkos (bungkus), takot (takut), perot (perut), putos (putus), pun (pon), mampos (mampus, mati), betol (betul), semapot (semput/semaput), cukop (cukup). Baku atau tidak, tapi yang penting kalo ada yang ngomong modelnya begini mudah2an kamunya ngerti.

-          Bute (buta), mate (mata), same (sama), juge (juga), terime kase (terima kasih), Lame (lama), pengsan (pingsan), Cube (coba), dll. Tapi ga semua jadi E ya. Ntar mentang2 rata-rata pake E, dibantai jadi E semua.

-          Faham/tak faham = mengerti/tak mengerti (ex : awak faham ke? = kamu paham kan? ; saye tak faham = aku ga’ ngerti)

-          Bile = kapan/bila/jika/kalau ( ex : bile mike nak ke Batam? = kapan kamu mau ke batam? ; Bile-bile ade mase = kalo-kalo ada waktu/kesempatan)

-          Sile = Silah/Silahkan

-          Tak aci/aci = bisa di artikan sebagai boleh/bisa (misalnya lagi maen Ye-Ye, terus ada yang curang : “ee.., tak aci macam tu lah…” = “ga bisa kaya’ gitu lah…”), kira-kira kek gitulah maksudnya, agak susah mendefinisikannya.

-          Enta é / Enta eh= entah/entah ya/ga tau/Ga tau ya (“é” disini bacanya kasar, seperti “é” pada kata “CAFÉ”. Kadang-kadang orang melayu ngomong ada tambahan “é” atau “eh” jenis ini dibelakangnya, ga ada maknanya sih, cuma tambahan aja sepertinya. Misalnya : Tak ade é ; Enta eh ; Sekejap é.

-          Tengok = lihat (ex : Tengok la, Bang = Lihat lah, Bang ; Ape yang Dinde tengok? = Apa yang Dinda lihat?

-          Siket (sikit) = Sedikit (ex : siket aje = sedikit saja)

-          Satu (satu) ; Due (dua) ; tige (tiga) ; empat (empat) ; lime (lima) ; enam (enam) ; tujo (tujuh) ; delapan (delapan) ; sepuloh/sepuluh (sepuluh) ;  tige belas (tiga belas) ; due puloh/puluh (dua puluh)

-          Kat/kak = dekat (ex : awak kat/kak mane? = kamu dimana?)

-          Budak = anak

-          Kecik = kecil (ex : Budak kecik = Anak kecil)

-          Ape lagi eh? = apa lagi ya?

Sepertinya segini dulu. Kalo kosakata saya nambah lagi akan saya tambahkan di-sesi selanjutnya :D (tsah..). Atau ada yang mau ditanya ntar saya tanyain sama master-nya, kalo ada yang kurang sok ditambahin, atau kalo ada yang mau ngurangin, sile dikurang.

*sore hari, bersama segelas kopi susu dan sebatang coklat

http://rabytah.multiply.com/journal/item/102/Awak_faham_ke