Uncategorized

Dengkul For All

Perihal kata Dengkul ini, adalah sebuah kata bertuah. Inspirasinya saya dapat dari tulisan ‘syech-syech’ congkak dari pesisir barat daya sumatra. Tulisannya yang sangat melayu terasa akan sangat menyebalkan bagi Anda yang belum terbiasa membaca karya-karyanya yang rencananya akan di’kitab’kan. Agak aneh memang dari sebegitu panjang tulisannya yang penuh metaforik, konflik, dan ‘barang-barang langka’, justru yang nyangkut di otak saya, hanya kata Dengkul. Saya berharap-harap cemas semoga tidak ada hubungan yang serius antara otak saya dengan dengkul saya. Tapi ya sudahlah. Saya juga tak mau membahas soal Dengkul kepunyaan saya ataupun Dengkul kepunyaan Syech congkak ini. Karena kami menggunakannya hanya untuk berjalan ataupun tempat bertumpu saat kami bersujud kepada-Nya.

Jadi Kawan. Akhir-akhir ini memang saya akui saya sedang berpikir perkara Dengkul ini. Dengkul-dengkul yang di-alihfungsi-kan pemiliknya untuk berpikir. Tentu kasihan benar si Dengkul ini. Sudahlah ia memangku amanah bersama kaki sebagai pemudah langkah manusia untuk berjalan, sekarang amanah yang seharusnya dijalankan otak malah dimandatkan kepadanya juga. Si Dengkul pun telah cemas dari hari-hari yang lalu. Ia takut jikalaulah nanti Tuan nya melimpahkan semua amanah-amanah rekan-rekannya kepada dirinya yang Dengkul itu.

Dengkul For All. All For Dengkul. Itulah slogan Tuannya akhir-akhir ini. Sungguh hal tersebut membuat ia tak enak hati dengan rekan-rekan se-tubuh-nya. Ia benar-benar tak ingin kehilangan teman-temannya perkara pembagian tugas yang timpang ini.

Namun tentulah bukan si Dengkul saja yang merana dalam perkara ini, si otak pun sebenarnya sama menderitanya. Apalagi ia diberhentikan secara tak terhormat, alias tidak adanya serah terima jabatan antara si Dengkul dan si Otak Demisioner ini. Sungguh terlalu. Ia pun tentu malu menjadi pengangguran di antara rekan-rekan se-tubuh-nya. Sudah sepatutnya lah sebelum bertindak si pemilik otak Demisioner mengingat apa pesan Ibnul Qayyim ini, bahwa “perkara yang paling berbahaya bagi seorang hamba adalah kehampaan hati dan jiwa. Karena sesungguhnya jiwa itu tidak akan pernah kosong. Jika tidak disibukkan dengan hal-hal bermanfaat pasti akan terisi dengan hal-hal yang membahayakan.” Jadi kosongnya hati itu takkanlah mungkin muncul kecuali orang-orang yang suka melamun dan menganggur.

Jadi wajar Kawan, jika kau pernah atau suatu saat melihat orang-orang yang otak nya demisioner, maka hatinya pun turut mengalami mal-fungsi, Dengkul dan sepatunya saja yang tambah mengkilat. Contohnya bisa kau lihat pada sekumpulan Dengkul-dengkul di negeri ini yang selalu saja merasa heboh, sakit, risih, temperamen, marah, muka padam, menjadi gila, jika mereka melihat jenggot-jenggot yang padanya bidadari-bidadari bergelayutan, jika melihat jilbab-jilbab dan kerudung berkibar, jika melihat saudari-saudari kita yang memilih bercadar, tapi justru Dengkul-dengkul ini biasa saja, alias tak bersuara ketika mereka melihat perbuatan yang membangkang perintah Tuhan.

Dengkul-dengkul seperti inilah yang sering membuatku terheran-heran jikalau berpas-pasan. Kadang tak habis pikir aku. Bagaimana tidak, Dengkul-dengkul ini menganggap membangkang Tuhan sebagai kebebasan berekpresi, sebagai bagian dari Hak Azazi Manusia. Namun jikalau yang memilih menjalankan hidup sesuai dengan perintah Tuhan, mereka anggap sebagai pengekangan ekspresi, melanggar Hak Azazi Manusia dan alasan-alasan lain yang sesuai dengan Dengkul mereka. Mereka begitu nyinyir melihat saudari-saudari kita yang memilih untuk bercadar, habis dikomentari, sementara tepat di sebelahnya seorang Muslimah memakai sempak dan singlet sedang nungging memilih-milih kacamata gaya.

Aneh kah menurutmu Kawan? Tadinya bagi ku aneh. Tapi setelah dipikir-pikir, ku maklumi. Mereka berpikir pakai dengkul. Wajar hasilnya seperti itu. Jadi kalau Kau bersua dengan Dengkul-dengkul ini. Tak usah kau layan. Maklumi saja Kawan. Otaknya Demisioner

*tulisan ini hanya alat pengingat bagi saya dan ‘Syech-syech’ saya saja. Kalau ada yang merasa tersindir maaf ya. Tapi kok bisa?_?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s