Uncategorized

Jika kau mengeluh, Kawan… [Mati Lampu Edition]

Tentu saja peringatan bagi ku juga. Dan tentu bagi mu yang mengumpat-ngumpat karena mati lampu barang sejam dua jam di tempat mu sana. Atau kau di ibukota sana yang merengek-rengek karena terganggu waktu online dan jadwal nonton sinetron mu perkara –tentu saja- mati lampu.

Setitik cerita dari perjalanan ke Sumatra Utara Januari lalu, kampung halaman orangtua saya. Ini mengapa saya selalu suka dengan yang namanya perjalanan. Selalu ada banyak cerita berisi pelajaran-pelajaran berharga yang diselipkan-Nya secara gratis, cuma-cuma hay…

Pastilah kau ingat Kawan, cerita si Ikal nan termahsyur itu. Mantan kuli ngambat di Belitong tanah Melayu yang berkarat karena timah di dalam buminya berlapis-lapis yang berhasil menyusuri Dunia bersama Simpai Keramat, Arai. Nanti kalau sudah menikah saya mau keliling dunia juga bareng Suami, seperti mereka. Tenang saja. Takkan terlupa saya dengan yang satu ini. Sudah didaftarkan di list cita-cita. Lagian bercita-cita gratis kan Pencapaiannya yang ga’ gratis. Nothing’s free.

Baiklah. Back to the main topic : Mati lampu. Dimulai dari bagian ini –> Ke Sumatra Utara Januari lalu adalah dalam rangka Rekonsiliasi keuangan Instansi dimana saya bekerja. Kenapa di Medan? Karena Medan merupakan Balai Besar I yang mencakup Nanggroe Aceh Darussalam hingga Sumatra Barat. Untuk Balai I ada puluhan stasiun (lupa tepatnya berapa puluh). Totalnya ada 5 Balai diseluruh Indonesia. Jakarta Balai Besar II, Denpasar Balai Besar III, Makassar Balai Besar IV, dan Jayapura Balai Besar V. Pokoknya saya kerja di Intansi yang ngurusin tetekbengek soal cuaca.

Ada banyak rekan-rekan yang saya jumpai saat rekon berlangsung. 2 hari kami tidur jam 3 malam terus gara-gara rekon yang tak kunjung balance-balance ini (berencana tidak ingin ikut lagi -_-”). Seharusnya saya dari dulu sadar salah pilih jurusan. Tapi yasudlah. Tentunya kau sudah tak sabar kan mengenai cerita mati lampu ini. Saya juga sudah mau cerita daritadi.

Jadi perkara mati lampu ini, dengan ‘lumayan’ tak tau dirinya si Marby ini cerita bahwa di Pulau Karimun nan semlohay [tempat si Marby ditugaskan] ini kalau lah sudah PLN menewaskan listrik di seluruh kampung bukan main lamanya, rekor 16 jam pernah saya catat. Mati lampu pun bisa berderet-berderet setiap hari. Jadi bagi penduduk sini, kalau cuma 3 atau 4 jam saja itu bukan mati lampu namanya, itu berkah. Saking jarangnya terjadi. Sementara saya kalau pulang ke Batam bukan main jengkel kalau tiba-tiba PLN memangkas umur listrik di komplek secara sepihak, serasa PLN itu punya Opung saya.

Namun perkara mati hidup ini pernah pula menjadikan warga muntab hingga ‘memborbardir’ kantor PLN di Pulau kecik nan rupawan ini. Macam manelah tak muntab Pak Cik Mak Cik ni, listrik mati sering, hidup segan, bayaran tak segan-segan. Padahal yang diminta rakyat sini, biarlah mati, asal terjadwal, dan biaya pembayaran pun murah. Bukan mati asal, minta dibayarpun asal. Demikian tau dirinya rakyat, masihlah juga orang-orang yang ngurusin hantu belau listrik rumah mereka itu tak tau diri, dasar orang miskin!

Biar sini kuterangkan sikit Kawan, miskin itu banyak jenis. Nah, Tak tau diri itu salah satu jenis miskin. Sampai sini, mulailah perkaya ke-tau-diri-an mu, aku juga.

Kawan, ternyata, banyak sekali daerah yang kondisinya lebih parah. Hasil perbincangan dengan rekan-rekan saya itu benar-benar semakin memupuk diri ini untuk selalu bersyukur, betapa beruntungnya saya, sudah itu banyak mengeluh pula, betul-betul tak punya adat. Salah satu cerita dari rekan saya yang ditempatkan di Nias misalnya, untuk urusan mati lampu saja lamanya bisa 24 jam. Kalau kau tak tau 24 jam itu apa, sini kuterangkan lagi sikit, 24 jam itu sama dengan 1 hari. Karena 1 hari itu terdiri dari 24 jam. Sampai sini Kau mengerti kan? Belum lagi urusan air. Yang sangat rajin sile nak jalan 2 kilo untok menimbe, yang rajin memilih tidak mandi.

Ini baru satu daerah saja, belum lagi daerah lain, yang bisa 48 jam mati berderet-deret sampai ke penghujung akhir pekan. Atau bisa jadi yang belum masuk listrik sama sekali. Jadi jangan heran kalau ada anak-anak kecil di daerah yang tak tau Doraemon siapa. Maklumi saja Kawan, hari minggu mati lampu soalnya.

Ini juga perihal miris di mataku. Sepanjang jalan lintas Sumatra yang reot itu, sepanjang perjalanan dari Medan hingga Parapat terhampar perkebunan karet, sawit, pucuk ubi rimbun, kopi dan coklat berhektar-hektar hingga ke bukit barisan. Mata ini tak henti-henti memandangnya. Sekaya ini Sumatra entah kemana lari kekayaannya.

Ya jelas bukan di Sumatra saja. Agustus tahun lalu saat saya di Bogor Diklat Penerbangan bertemu dengan rekan-rekan Se-Indonesia. Dari Aceh hingga bumi emas Papua. Dengerin cerita mereka makin bikin ‘tau diri’, dari Maluku yang sudah biasa lihat darah, dari Aceh yang sudah terbiasa mendengar bunyi peluru sejak masih dikandungan Ibunya, dari Fak-Fak hingga Merauke yang harus jalan 30 km untuk membeli keperluan hidupnya. Dan mereka membuktikan pada saya, bukan keluhan yang menyelesaikan masalah mereka, bukan pula keluhan yang menjadikan mereka tetap bertahan dan tangguh.

Hay Kawan,, Cukuplah keluhan kita itu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s