Uncategorized

Dua Gelas Teh untuk Malam ini…

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang…

Saya mau bercerita saja. Katanya Menulis itu adalah Terapi. Jadi saya cobalah menulis lagi kali ini untuk menentramkan hari-hari yang pastinya didatangi jenis perasaan yang berbeda-beda, bisa jadi tiap jamnya berbeda-beda.

Waktu mengetik tulisan ini saya ditemani segelas Teh Susu (yang sebenarnya sudah habis), roti kering, dan headset yang sedang memutarkan lagu Green Day – 21 Guns. Dan kawan, sekarang lagu di winamp saya ini sudah berpindah ke Fatwa Pujangga – Randy Aray Ahmad . Sebuah lagu indah dari S. Effendy, penyanyi dari tanah melayu dimana bumi berazam bertempat. Sebuah lagu rindu yang mampu membuat bujang-bujang di pesisir kota gurindam semakin merana karena cintanya nun jauh berjembatan ombak laut, durja dimakan rindu mereka yang semakin berkarat-karat.

Tlah kuterima surat mu yang lalu

Penuh sanjung kata merayu

Syair dan pantun tersusun indah sayang

Bagaikan sabda fatwa pujangga…..

Tapi sayang

Kemanakah risalat ku, ku alamatkan…

Begitulah syairnya kawan. Separuh gubahan lirik MeTal (melayu total) yang melankolis tapi sangat ‘membunuh’ itu. Sekedar peringatan dini saja, jangan pernah memperdengarkan lagu ini kepada bujang-bujang ataupun anak dara yang sedang dimabuk rindu, fatal bukan main. Bagus kau mainkan lagu Green Day yang tadi saja. Karena mabuk rindu tak sama dengan mabuk laut. Mabuk laut kau bisa minum antimo, langsung tidur. Mabuk rindu ditambah lagi mabuk cinta ditambah lagi mabuk laut, bah! Kacau sekali ini kawan. Perpaduan yang membahayakan. Yang satu ini obatnya cuma satu, dihalalkan!

Jadi kembali ke main topic (padahal tidak ada main topic, saya saja bingung ini main topicnya apa). Seperti yang kukatakan di awal tadi. Saya hanya ingin bercerita-cerita saja. Seorang kawan sekelas, seangkatan, akan melahirkan malam ini, operasi. Satu orang mengabarkan sedang ber-packing-ria, karena mengikuti suami ke seberang Pulau Sumatra yang kami cintai ini. Satu lagi sedang bersama suami, sama, akan melanjutkan kisah yang baru. Dan satunya lagi, masih menikmati masa-masa “pacaran”nya dengan suaminya yang masih di “musim semi”.

Bahagia tentu saja. Ada haru dan rindu juga. Rindu di masa-masa saat kami masih bersama. Begitu cepat rasa-rasanya waktu ini meninggalkan kami. Sebentar kami masih banting tulang menyelesaikan tugas Mikro Ekonomi yang hampir-hampir membuat kami mimisan kuliah dulu, sebentar kemudian saya sedang duduk mendampingi salah satunya menikah, dan sepertinya cuma sebentar, tapi malam ini saya sudah harus bersiap sedia lagi di panggil ‘Ammah oleh ponakan baru. Jadi sebut sajalah bahwa saya ini sedang merasa kehilangan.

Sampai saat ini saya masih terus berusaha belajar memahami rencana-rencana yang telah disusun-Nya. Kadang lancang saya menebak-nebak seperti apa saya nanti, siapakah yang akan membonceng saya kalau pulang dari syuro’ atau kantor nanti, anak saya berapa, dimana saya menghabiskan masa tua saya nanti, cucu saya berapa, siapa yang meninggal dulu, saya atau suami. Tapi memang “tak tau” ada baiknya, karena itu ia diciptakan dalam sebuah padanan kata. Padanan kata yang sebagian menganggap menyebalkan, namun tak sia-sia.

——————————————————–

Saya kembali lagi Kawan. Kali ini bersama segelas Teh Rosella panas dan sebait kalimat di tulisan seorang teman yang teringat oleh saya, kalau tidak salah punya si pemikirulung. “Kenangan (masa lalu) ibarat kaca spion, jangan sering-sering dilihat, ntar yang didepan ga’ kelihatan.”

Sepertinya iya juga. Kenangan, masa lalu, sejarah, atau apapun saya menyebutkannya, sudah selayaknya dijadikan pelajaran untuk menempuh kehidupan yang akan datang. Kesalahan menjadi semacam pelatihan dan pedoman selanjutnya untuk melangkah. Kira-kira begitu, bagi mereka yang berpikir. Bukankah Allah kita yang Maha Lembut dan Maha Bijaksana yang memerintahkan, “ Pelajarilah sejarahmu untuk hari esokmu [Al-Hasyr-18].

Gampang mengatakannya. Mungkin begitulah salah satu atau beberapa darimu menilainya. Jangan-jangan termasuk saya. Tapi untuk bagian ini, bagian yang lalu, bagian mengikhlaskan yang tak didapat, bagian yang urung terjamah, saya sepertinya akan selalu ditahap pembelajar, bukan ahli. Seperti yang saya tulis di akun facebook saya yang banyak sekali penggemar ceweknya itu, Pembelajar Sampai Mati.

Banyak hal sebenarnya yang ingin saya ceritakan. Tapi malam telah larut. Jika ada Polisi Syari’ah mungkin saya sudah ditilang dengan hukuman hafalan 5 juz. Agak berat jika mengingat 3 bulan ini 1 juz saja saya belum beres-beres. Memprihatinkan.

Jika ada kesempatan akan kusambung lagi. Sekedar penutup singkat, perkataan ‘Ali ra. yang kerapkali ku ulang-ulang, “Tulisan adalah terjemahan niat,” begitu katanya. Jadi ingin ku tuliskan sebuah cita :

“humaiRA Si Sejarawan Besar, Istri Mujahid, Calon Ibu Para Calon Pejuang”

[di Bumi, 05 April 2010, 23.21]

One thought on “Dua Gelas Teh untuk Malam ini…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s