Uncategorized

Jika Qof bertemu Shot… [ a-Gado-Gado-Tale-Story ]

Pagi ahad, Fathimah dan Salmah telah siap-siap di depan pintu kos mereka dengan penampilan rapi dan dua bungkus buah Apel dan Pear ditangan masing-masing. Rencana mereka hendak pergi menjenguk Mak Cik Qoshim yang seminggu lalu baru saja operasi Kista di Rumah Sakit Pulau Beruang, seberang Pulau Kecik nan Gemulai mereka ini.

Mak Cik Qoshim adalah istri dari Pak Cik Qoshim, Ketua Balai Desa Kampong Sejuk-Berseri. Dan aku peringatkan kau ya, panggillah nama dia QO dengan Qof tebal serta SHIM dengan huruf Shot yang sempurna, QOSHIM, bukan KASIM. Kecuali kalau kau mau diberinya les private 1 jam non-stop khusus materi huruf hijaiyah untuk meluruskan lidahmu. Pasal persoalan namanya ini selalu memicu pembicaraan menjadi panjang, tentu saja memanjang karena ditambah dengan penjelasannya terlebih dahulu mengenai namanya yang berawalan Qof, bukan Kaf, dan SHIM dengan huruf Shot, bukan Sin.

Jam sepuluh kurang sedikit mereka sampai di rumah Pak Cik Qoshim dengan berjalan kaki, jaraknya hanya 5 menit perjalanan. Sampai disana mereka disambut Pak Cik Qoshim yang sedang menikmati kopi di beranda depan dan Bang Bujang, anak lelaki Pak Cik Qoshim, yang tiba-tiba pipinya menjadi malu kemerah-merahan. Padahal Fathimah dan Salmah pun tak sadar dengan keberadaannya yang sedang mengupas kates (pepaya) di samping rumah Pak Cik Qoshim yang rindang. Bang Bujang segera melecit ke kamar mandi belakang membersihkan tangan dan mukanya. “Adinda Fathimah datang,” teriak hatinya. Bunga-bunga melati dan kembang sepatu berjatuhan ke dasar hatinya. Adinda Fathimah yang biasa hanya bisa dilihatnya di teras Masjid mengajar anak-anak TPA (Taman Pengajian Al-Quran) kini malah sudah ada dihadapannya.

Fathimah & Salmah         : Assalamu’alaikum Pak Cik…

Bang Bujang                       : Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh…

Bang Bujang menjawab layaknya Jendral Soedirman yang berpidato menyeru Jihad di lapangan. Pak Cik Qoshim yang mengidap kolesterol tinggi ini terkaget-kaget melihat anaknya si Bujang tiba-tiba sudah ada disampingnya, kaki mereka malah tak berjarak, pas seperti orang nak sholat. Tapi Pak Cik diam saja dengan kesigapan anak bujang satu-satunya dalam menyambut tamu kali ini. Taulah dia, ada kacang dibalik coklat.

Bang Bujang dengan pipi masih kemerah-merahan mengulurkan tangannya yang sudah dicuci dengan sunlight. Salmah tersenyum mahfum. Fathimah tersenyum agak asin seraya menangkupkan kedua tangannya di dada, begitupun Salmah. Pak Cik Qoshim merasa heran melihat cara si Fathimah bersalaman dengan si Bujang. Tapi mau tak mau dia ikut-ikutan juga menangkupkan tangannya. Walau tua-tua begini, dia juga masih punya gengsi.

Salmah                 : Mak Cik ade Pak Cik?

Pak Cik Qoshim : ade, ade.. masoklah ngko bedue,,

Pak Cik Qoshim mengajak Fathimah dan Salmah masuk ke ruang tamu di dalam. Tentulah Bang Bujang tak perlu diajak masuk, karena dilarang masuk pun pasti dia akan tetap masuk juga.

Pak Cik Qoshim : Sitiii.. buatkanlah Kakak ngko bedue ni teh manis ye *Siti Adik perempuannya si Bujang*

Siti                          : iye Bah.

Sekilas ia melihat salah satu tamunya, Fathimah, nama gadis pendatang dari Kota seberang yang sudah dua bulan terakhir ini menghiasi buku diary norak Abangnya. Dan taulah Siti kini mengapa hari ini menemani tamu berbicara adalah fardhu ‘ain bagi Abangnya. Padahal biasanya Bang Bujang lebih memilih di kamarnya daripada harus bebual dengan tamu yang datang. Hari ini tamunya memang beda. Siti berbalas senyum dengan Fathimah dan Salmah.

Pak Cik Qosim    : Bujang, Panggilkanlah Mak ngko. Bilang pada Mak calon mantunya datang. *Pak Cik tersenyum menggoda, tau apa isi hati Bujangnya*

Fathimah senyum terpaksa, sementara Salmah masih tetap berusaha menahan tawanya. Namun janganlah kau tanya pasal si Bujang ni. Megah betul perasaannya. Dadanya membesar, senyumnya melebar, saat ini dialah Lelaki tergagah. Kini tak hanya kembang sepatu dan Melati yang bertaburan dihatinya, tapi juga bunga tulip dari Belanda, sakura dari Jepang, mawar dari Inggris, bunga jambu air Mak nya, bunga terompet Mak Cik Roslan, hingga hati Bujang telah pun menjadi taman Bunga. Semakin yakinlah iya bahwa Mak dia tak salah pilih Suami dulu. Hari itu telah dinisbatkan olehnya, bahwa Abahnya adalah Lelaki paling jujur dan perkasa di dunia ini.

Fathimah             : Tak apa Pak Cik. Biarlah Mak Cik istirahat. Saya dan Salmah hanya ingin mengantar buah tangan dari kami.

Pak Cik Qoshim : Jangan macam tu lah. Duduk dan bicaralah barang sejenak. Lagipula Mak Cik ngko pun sudah lumayan sihat.

Mak Cik Qoshim : Betullah kate Pak Cik tu Fathimah. Mak Cik pun dah tak ape sekarang. Kite bincang-bincanglah sebentar. Lame rase Makcik tak liat kalian bedue ni. Macam mane khabar TPA kite tu? *Mak Cik tiba-tiba muncul dari pintu kamar, ditemani Si Bujang yang mengamini dalam hati kata-kata kedua orangtuanya dengan khusyuk*

Fathimah             : Alhamdulillah semakin ramai Mak Cik. Penduduk kampung kelihatannya antusias dengan TPA kita yang baru ini.

Siti                          : Silahkan Kak Salmah, Kak Fathimah. *Siti muncul dengan membawa hidangan Teh Manis dan Kue Bangkit khas melayu*

Fathimah dan Salmah     : Terimakasih Dik Siti.

Percakapan pun berlanjut seputar masalah penyakit Mak Cik, TPA hingga masalah (tentu saja) Qof dan Shot nya Pak Cik. Bujang hanya mengangguk-angguk takzim sekalipun dia tak mengerti apa yang sedang dibicarakan. Yang penting dapat dilihatnya wajah sendu Fathimah, maka puaslah hatinya. Hingga akhirnya Pak Cik bertanya perihal yang daritadi ditahan-tahannya. Pasal besalam tu lah.

Pak Cik Qoshim : Ngape ngko besalam macam tu Fathimah?

Mak Cik Qoshim : Ape maksud ngko ni Bang?

Fathimah & Salmah : *berkerut-kerut*

Pak Cik                  : itu lah tadi. Ngape salamnya macam gini *sambil mempraktekkan tangan ditangkup di dada*. Salam dari daerah mane pulak tu?

Fathimah dan Salmah menangkap maksud Pak Cik Qoshim. Fathimah menjawab sesederhana mungkin. (kalau tak maudibilang malas).

Fathimah             : Saya, Pak Cik dan Bang Bujang kan bukan mahrom Pak Cik. Maka tak baiklah jika bersentuhan.

Pak Cik Qoshim : Kate siape pulak? Bukankah Nabi dan para shohabat suka bersalaman. Oii mak, ngko hati-hati aliran jaman sekarang ni Fathimah. Salah-salah ngko nanti jadi sesat pulak *Pak Cik mulai wanti-wanti*

Fathimah             : Tapi Rasulullah tak pernah bersalaman dengan wanita Pak Cik

Pak Cik Qoshim : Tau darimane pulak ngko? Memang ngko pernah lihat Rasulullah tak besalam dengan wanite?

Fathimah             : Memang Pak Cik pernah lihat para shohabat dan Nabi bersalaman?

Pak Cik Qoshim : *mesem* Ya tak lah. Yang aku cakap tu kan hadits.

Sambil menyeruput Teh Manisnya Salmah hanya tersenyum mendengar dialog Fathimah dan Pak Cik Qoshim. Sementara Bujang mulai khawatir, takut-takut pembicaraan ini berujung pada pertengkaran, dia cukup tau tabiat keras Abahnya. Jika terjadi, maka porak porandalah taman bunga yang sudah terbangun di hati Bujang. Fathimah kembali tersenyum mendengar Pak Cik. Bujang semakin sempoyongan.

Fathimah             : Pak Cik, jikalau lah ada dua buah kue. Yang satu terbuka dan sudah terpegang-pegang oleh orang, bahkan sudah dicicipi, dan yang satu lagi masih terbungkus rapi dan belum disentuh. Kue mana yang nanti Pak Cik Beli?

Pak Cik Qoshim : Hubungannye ape pulak? *meninggi, makin berkerut-kerut dahinya*

Mak Cik mulai risau. Bukan pasal pembicaraan si Fathimah dan Suaminya. Tapi melihat muka si Bujang yang macam orang melihat hantu. Pucat rase semapot, khawatir betul bunga hatinya dicabut tangan Abahnya.

Fathimah             : Ya Pak Cik jawab sajalah dulu

Pak Cik Qoshim : Yang terbungkos lah. Tak ndak lah yang tepegang-pegang orang.

Fathimah             : Oh, begitu ya. Saya tanya lagi Pak Cik. Jikalau lah ada 2 buah gelas, yang satu sudah kotor karena banyak bekas pegangan tangan orang-orang, yang satu lagi masih licin mengkilat dan belum tersentuh, mana yang Pak Cik pilih?

Pak Cik Qoshim : Yang masih licin lah. *mulai turun, tapi masih berkerut-kerut*

Fathimah             : Oh, begitu. Baiklah Pak Cik. Ini pertanyaan terakhir. Jikalau lah ada 2 buah buku yang sama, yang satu sudah tak terbungkus dan banyak lipatan karena sering dibolak balik orang, sementara yang satu masih rapi terbungkus dan terjaga, mana yang Pak Cik beli?

Pak Cik Qoshim : Ya yang terbungkuslah. Takkan yang telipat-lipat tu.

Fathimah             : Begitulah seorang wanita Pak Cik. Yang tadi itu hanya sebuah analogi. Jikalah Pak Cik memperlakukan ketiga benda yang saya contohkan tadi dengan begitu mulia, apalah lagi dengan seorang wanita. Manusia yang kelak menjadi Ibu dari anak-anak setiap lelaki, yang menjadi madrasah ilmu bagi anak-anaknya kelak, yang menjadi sandaran ketika suaminya lelah berjuang.

Pak Cik Qoshim : *terkesima* Ya Allah. Ngape aku tak berpikir sampai sana ye. Tak sie-sie aku dudok same kalian bedue ni, Fathimah, Salmah. *Pak Cik manggut-manggut puas*

Mak Cik Qoshim : Aku kan dah bilang Bang. Bujang tak mungkin lah salah pilih calon mantu buat kite ni. *Mak Cik sumringah bukan main, semakin mantaplah ia dengan pilihan Bujangnya*

Salmah sekuat hati dan tenaga menahan tawanya yang hendak keluar secenti lagi dari mulutnya. Namun tidak dengan Fathimah, tiba-tiba Teh Manis yang diminumnya terasa asin. Terpaksa menarik bibirnya untuk tersenyum. Dan pura-pura menganggap perkataan Pak Cik dan Mak Cik hanya sebuah candaan. Tak digubrisnya, walau takut-takut juga.

Dan Bang Bujang. Ahaayy… Satu ton bunga melati dan terompet entah darimana tiba-tiba ke hati si Bujang. Senang tak terkira rasa hati dia mendengar apa kata Abah dan Mak nya. Walau tak ada hubungan apa-apa namun Bujang tetap merasa bahwa perkataan Abah dan Mak nya tadi adalah sebuah kata-kata restu, shahih, jelas riwayatnya, bagi cintanya pada Fathimah, sekalipun Fathimah tak peduli.

Fathimah             : eh ehm, baiklah Pak Cik, Makcik. Saya dan Salmah ingin pamit dulu. Insya Allah siang ini kami ada acara pengajian lagi. Iya kan Salmah. *menatap Salmah tajam sebagai kode agar Salmah mengiyakan*

Salmah                 : Eh, iya Pak Cik, Mak Cik. Lagipula sudah dari sejak pagi kami disini. Kami doakanlah semoga Mak Cik semakin sihat dan bisa berkunjung ke TPA lagi.

Pak Cik Qoshim : Iyelah. Kalian hati-hati ye bedue.

Mak Cik Qoshim : Makasih ya Fathimah, Salmah, sudah susah-susah menjengok Mak Cik ni. Moge lah Allah membalas kebaikan kalian bedue.

Fathimah             : Tak apa Mak Cik. Itu sudah kewajiban kami sebagai Muslim menjenguk saudaranya yang sakit.

Habis menyelesaikan prakata perpisahan, Pak Cik, Mak Cik, Siti dan Bang Bujang mengantar Salmah dan Fathimah ke depan beranda rumah.

Mak Cik Qoshim : Tolong jagakan Fathimah buat kami ye Salmah.

Salmah                                 : Tentu Mak Cik.

Fathimah lagi-lagi hanya diam, menatap sahabat satu kamarnya ini dengan gemas. “Awas kau nanti Salmah”.

Fathimah dan Salmah : Assalamu’alaikum…

Pak Cik, Mak Cik, Siti, Bang Bujang : Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh…

Bang Bujang       : Hati-hati ya Dinda…

Akhirnya dengan susah payah Bujang dapat mengeluarkan suara. Walau hanya empat kata, tapi jangan kau sepelekan kawan! Itu adalah kata-kata yang keluar dari dasar hati taman bunganya.

Fathimah             : Nama saya Fathimah Bang, Bukan Dinda *jutek*

Salmah dan Siti menahan senyum. Namun di telinga Bujang, suara Fathimah ibarat suara Salomah yang berdendang sendu bersama P. Ramlee. Tak apalah. Namanya juga usaha.

copaste from my-other-place

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s