Uncategorized

Nikah, Kawin, Sama??

Oknum : ”Kalo kawin sih udah pernah, Nikah belum…”

Neng : (-_-)a

Entah kenapa saya merasa penting menulis hal ini. Walau pun tidak kelihatan di sebelah mana letak urgensinya. hehheh. Tapi saya sering banget denger jawaban seperti tadi. Biasanya jawaban ini keluar dari temen cowok atau kakak kelas cowok yang ditakdirkan ketemu saya di mall, di acara walimahan, di jalan, di pom bensin atau yang nyapa lewat chatting.

Ga tau yak, kalo ngomong sama cowok entah kenapa bawaan saya bicara cenderung rada ‘preman’ (-_-) Kadang dah abis di sapa, basa basoy sebentar, ga ada bahan, saya tanya deh sama beliau-beliau ini, ”Kapan kawin kak?” atau “Jadi kapan kawin, bro? Keduluan tuh sama si Mince.” (berasa sok, yang nanya berasa dah nikah)

Dan berdasarkan metode penelitian empiris dan pendekatannya, jawabannya rata-rata hampir mirip, cuma beda koma, penggunaan kata penghubung, dan intonasi.

Gegara ini saya sampe ‘mendatangi’ mbah Google, memang beda kawin sama nikah apa? Seingat saya ga ada, alias sama aja artinya. Lupa dulu di acara apa, yang jelas jaman2 kuliah keknya, Pemateri : “Nikah asalnya dari Bahasa Arab, Munakahat. Kalo kawin dari bahasa Indonesia. Artinya ya sama saja. Satu dari bahasa arab, satunya Indonesia”

Tapi pas saya searching di google banyak banget pendapat yang bermunculan.

Yang bilang beda, alasannya :
1. – Kawin tuh buat hewan, nikah buat manusia
2. – Kawin bersatu secara fisik, tapi kalo nikah ada dokumen dan surat-surat resmi
3. – Kawin ga ngundang-ngundang, kalo nikah sebar undangan
4. – Panjang lagi.

Intinya dari hasil yang saya search, kawin di identikkan dengan 2 hal : kegiatan biologis di luar nikah dan kegiatan binatang yang sedang berkembang biak. Jadi kalo dikalkulasikan secara semena-mena berarti seks bebas itu sama dengan kegiatan binatang. *siap-siap dituntut*

Sedang kata nikah berasal dari bahasa arab, Munakahat, yang dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan dengan perkawinan. Nikah menurut istilah syariat Islam adalah akad yang menghalalkan pergaulan antara laki – laki dan perempuan yang tidak ada hubungan Mahram sehingga dengan akad tersebut terjadi hak dan kewjiban antara kedua insan.

Perkawinan atau Nikah artinya Suatu akad yang menghalalkan pergaulan antara seorang laki-laki dan perempuan yang bukan muhrimnya dan menimbulkan hak dan kewajiban antara keduanya.

Nah, kalo di KBBI (Kamus Besar Bahasa Indoenesia) pengertian nikah dan kawin ini panjangnya 2 halaman. Cuma perngertian aja nih urusannya panjang. Jadi saya kutip sedikit, panjang bet.

Nikah (n) adalah ikatan (akad) perkawinan yg dilakukan sesuai dng ketentuan hukum dan ajaran agama.

Me•ni•kah (v) melakukan nikah; kawin.
Me•ni•kahi (v) mengambil sbg istri; mengawini.
Me•ni•kah•kan (v) menjadikan bersuami (beristri); mengawinkan.

Kawin (v1) membentuk keluarga dng lawan jenis; bersuami atau beristri; menikah: ia — dng anak kepala kampung; 2 v melakukan hubungan kelamin; berkelamin (untuk hewan); 3 v cak bersetubuh: — sudah, menikah belum; 4 n perkawinan;

ka•win-ma•win n 1 berbagai-bagai urusan perjodohan (pernikahan); 2 pertalian (sanak) krn perjodohan (perkawinan dsb);
ber•ka•win (v) menikah.
me•nga•win (v) kawin; mengawinkan;
me•nga•wini (v) mengambil sbg istri; memperistri.
me•nga•win•kan (v) menyatukan dua orang lain jenis menjadi suami istri; menikahkan; 2 mempertemukan binatang (tumbuhan) yg berlainan jenis untuk mengembangbiakkannya; 3 memadukan (mengombinasikan) dua hal untuk mencapai sesuatu yg baik.

Sekian Penjelasan saya mengenai “Distorsi Sejarah Pemaknaan Nikah wal Kawinin”. Rencana mau dijadiin thesis. Sayang dah, S1 aja saya belum khatam2. Tapi kalo yang ditanya saya, beda nikah ma kawin apa? Jawaban saya keduanya ya sama aja. Wajibul kudu disegerakeun kalo dah mampu. Hehhe.. –> teori doank.

Allahu a’lam bish showab. Silahkeun dah kalo punya pendapat beda Ga apa. ‘Afwan minkum.

Ttd,

Anak Ayah Emak

http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/

http://akhsan99.wordpress.com/2009/10/15/intrn-fiqih-munakahat-bag-1/

————————————————————————–

“Dialah yang menciptakan kalian dari satu orang, kemudian darinya Dia menciptakan istrinya, agar menjadi cocok dan tenteram kepadanya” [QS. Al-A’raf: 189]

“Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah” [QS. Adz-Dzariyaat: 49]

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” [QS. Ar-Ruum: 21]

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Alloh Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”. [QS. An-Nur: 32].

“Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku” [HR. Ibnu Majah, dari Aisyah rodhiyallohu ‘anha.]

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda: “Wahai para pemuda! Barangsiapa diantara kalian berkemampuan untuk nikah, maka nikahlah, karena nikah itu lebih Menundukan pandangan, dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa (shaum), karena shaum itu dapat membentengi dirinya”. [Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Darimi, Ibnu Jarud dan Baihaqi].

Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu berkata: “Telah bersabda Rosulullah shollallohu ‘alayhi wa sallam: Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Alloh dalam memelihara yang separuhnya lagi”. [Hadist Riwayat Thabrani dan Hakim].
“Ada tiga golongan manusia yang berhak Alloh tolong mereka, yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka, dan seorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya”. [Hadits Riwayat Ahmad, Nasa’i, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Hakim dari shahabat Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu].

Ibnu Mas’ud radliyallahu ‘anhu pernah berkata : “Jika umurku tinggal sepuluh hari lagi, sungguh aku lebih suka menikah daripada aku harus menemui Allah SWT sebagai seorang bujangan”. [Ihya ‘Ulumuddin hal. 20]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s