Uncategorized

Sebenarnya Alam Mengajarkan Kita

Rotasi bumi, perputaran siang dan malam. Merepresentasikan sebentuk frame kehidupan. Bahwa hidup tak selamanya di atas, tak selamanya di bawah. Tak selamanya senang, tak juga selamanya sulit. Setitik atau sebongkah masalah adalah tergantung bagaimana manusia menyikapinya. Apakah tetap tersenyum di malam sama seperti ketika di siang. Apakah tetap mengingat di siang sama seperti ketika bersujud di malam. Menjadi Berkah, ataukah tetap menjadi problema.

Bukankah setelah hujan, maka akan ada cerah. Karena tak selamanya cumulonimbus menguasai langit. Setelah malam, maka kemudian siang. Tak selamanya gelap, tak selamanya terang. Setelah basah, maka akan mengering. Setelah badai, akan ada tenang. Minazh zhulumaati ilannuur. Maka setelah kegelapan akan ada terang.

Hakikatnya kesulitan dan kebahagian, keduanya adalah cobaan. Suatu bukit dan gunung berkah. Sebelahnya menanjak, sebelahnya lagi menurun. Fainnama’al ‘usri yusraa, innama’al ‘usri yusraa (Alam Nasyrah : 5-6). Sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan. Lalu akankah perasaan kita tetap sama saat menyikapi bahagia dan masalah dengan seperti saat kita menyikapi matahari, senja dan langit malam dengan satu perasaan yang sama, menikmati.

“Maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi.” (Al-Mu’min – 55)

Seperti semut-semut, strukturisasi yang harusnya diteladani. Setiap tingkatan memiliki fungsi. Setiap fungsi memiliki tanggung jawab. Setiap tanggung jawab dijalankan. Bekerja tanpa iri. Kecil namun belum bisa dicontoh sepenuhnya oleh makhluk yang milyaran kali lebih besar dari tubuhnya. Jika manusia saja belum sanggup mencontoh makhluk Allah yang sekecil ini, lalu masihkah pantas bersombong diri. Afalaa yasykuruun. Maka mengapa mereka tidak bersyukur?

Seperti juga lebah. Bekerja tanpa pamrih untuk kelangsungan hidup sesamanya, pun membawa faedah bagi bukan sesamanya. Jika manusia juga belum sanggup mencontoh makhluk Allah yang sekecil ini, lalu masihkah pantas bersombong diri. Khairunnaas anfauhum linnaas. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lain.

“Dan Kami tundukkan binatang–binatang itu untuk mereka; maka sebagiannya menjadi tunggangan mereka dan sebagiannya mereka makan. Dan mereka memperoleh padanya manfaat–manfaat dan minuman. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?” (QS. Yaasiin, 36:72-73)

Harmonisasi alam mengajarkan kita bahwa apa yang diciptakan-Nya tak ada yang sia-sia. Seimbang. Melengkapi satu sama lain. Dan sudah menjadi ketentuan bahwa tak ada yang abadi. Dari setiap peristiwa, setiap makhluk, Dia telah menyelipkan pembelajaran bagi makhluk-Nya yang ditunjuk sebagai Khalifah di muka bumi ini. Tentunya bagi mereka yang mau berpikir. Liqaumi yatafakkaruun.

“Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.” (QS. Al-Jaatsiyah : 13)

Allahu a’lam bish showab -senantiasa dalam rangka perbaikan diri-

copaste from my-other-place

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s