Uncategorized

2 Mei itu

Bismillahirrahmanirrahim…

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang…

————————————————————————————–

Kali ini ditemani dengan segelas milo panas dan Counting Crows yang sedang menyanyikan Accidentally in love. Hanya ingin bercerita lagi malam ini. Tentang 2 Mei itu. 6 tahun yang lalu. Sebuah titik tolak perubahan, dimana gelora perubahan pertama kali bergema di setiap sudut ruang kerinduan itu.

Tentang 2 Mei itu. 6 tahun yang lalu. Ku ulang untuk sekedar me-rewind memory dengkul ku kembali. Dalam waktu 6 tahun itu yang ku ingat, di awal aku sudah harus disibukkan dengan puing-puing kebencian yang harus kuterima dari seseorang. Di saat itu aku juga sedang sibuk mengenal ini itu dari sesuatu yang baru saja kupilih. Yang ku ingat aku juga harus kembali menata titian perjuangan yang sempat ku kacaukan. Dan sampai sekarang aku tetap menjadi pembelajar sejati.

2 Mei itu. Perubahan 360°. Allah Maha Pemutar Balik Hati. Aku rasa 3 kalimat tadi sudah merangkum semua cerita. Sampai tak terasa hari itu adalah 6 tahun yang lalu. Ibarat pedang, jika tak waspada dan dapat memanfaatkannya, maka waktu akan menebas mu. Sayang nya sudah tak terhitung aku ditebasnya, alhamdulillah belum mati.

Lancang aku mengira-ngira, mungkin aku masih diberi kesempatan. Aku berpikir, mungkin aku ada gunanya di dunia ini. Karena itu aku tak ditebasnya sampai mati. “Guna” itu sedang kucari. Karena tak ada yang sia-sia. Orang pemalas saja ada gunanya. Katanya.

Banyak sekali sebenarnya harapan-harapan yang belum tercapai. Banyak hal-hal yang diinginkan tapi belum terjamah. Tapi apa yang menurut kita baik untuk diri kita, belum tentu menurut-Nya baik. Apa yang menurut kita buruk, jangan-jangan itu yang terbaik. Allahu a’lam bish showab.

Tetap berusaha menjadi ‘sesuatu’, memiliki karya besar. Berharap akulah si Sejarawan Besar. Berharap akulah si Ahli Bahasa. Berharap dari rahim ku lah lahir ulama-ulama besar, pejuang-pejuang tangguh, dan Ilmuwan-ilmuwan cerdas. Ha, besar kali harapan kau, humaiRa. Tapi berharap itu kan gratis ya. Realisasi nya yang ga’ gratis. Perjuangan dan pengorbanan telah mencatatkan dirinya di lembaran sejarah sebagai syarat tercapainya cita.

Seorang penyair pun pernah berkata, “Jadilah seorang laki-laki yang tapak kakinya berpijak di atas tanah, namun cita-citanya menggantung di atas bintang kejora.”

Laki-laki. Tapi aku anggap saja ini nasihat untuk ku juga. Hanya orang-orang bertekad rendah dan tak punya cita-cita yang sanggup hidup tanpa melakukan kebaikan, bukan?  Kita adalah seberapa dalam jejak yang kita tinggalkan di muka bumi ini.

Begitu saja cerita ku Kawan, tentang 6 tahun yang lalu. Dan sedikit tentang cita-cita. Singkat. Bukan karena malas. Tapi aku memang jenis manusia yang ‘kurang ekspresif’ untuk mengungkap apa yang aku rasa. Sekalipun hanya di selembar kertas. Words can not tell how much love, Snoopy said.

Allahuma aamiin…

“Manusia sesuai dengan apa yang ia yakini.”

[Anton Tsezkov]

RaByTah Anak Ayah Emak

Pengamat Langit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s