Uncategorized

Sebelum Soto Medan disajikan

Bismillahirrahmanirrahim…

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang…

—————————————————————————————

2 hari yang lalu adalah hari minggu. Hari minggu adalah hari ke tujuh, alias akhir pekan, bahasa kampung saya nyebutnya weekend. Hari minggu juga sering dipilih untuk mengadakan acara seperti walimahan, nikahan, dan kawinan *penting*. Sebagian besar ada yang libur di hari itu. Sebagian lagi ada yang menunaikan kewajibannya sebagai kuli (ya kek saya ini). Dan hari itu juga, seperti biasa jadwal liqo saya setiap sore. Bedanya jadwal liqo kali ini special. Kenapa special? Soalnya saya ga’ perlu setor hafalan, hehhehe…

Jadi Kawan, hari itu kami sudah sepakati di minggu sebelumnya diisi dengan acara masak-memasak. Pengennya saya sih camping atau hiking. Tapi berhubung saya liqo gabung sama emak-emak jadi TENTU SAJA acara refreshing yang dipilih adalah MASAK-MEMASAK. Menunya sudah ditentukan, Soto Medan!

Ga’ usah pada bayangin saya yang ngolah bumbu plus ngulek-ngulek. Di hari penuh suka cita itu saya cuma kebagian tugas nyuwir-nyuwir ayam, ngerebus air, sama bersihin toge doang, qeqeqe….. standar jiddan. Biar ah.

Selain nyuwir-nyuwir, saya juga kebagian tugas bawa kantong plastik. Apesnya pas dijalan ke markas saya baru inget soal kantong plastik ini. Muter-muter deh nyari keberadaannya dimana. Clingak clinguk sambil bawa motor pelan-pelan liat warung di pinggir jalan. Pertamanya cuma ada warung kecil, agak masuk ke dalam. Di pikiran saya “sepertinya ga’ bakal ada barang yang saya cari”. Saya ga’ mampir. Akhirnya ketemu juga dengan mini market. Berhentilah saya. karena menurut saya, pastilah mini market ini lebih lengkap. Kemudian masuk, muter-muter, yang ketemu cuma chiki-chiki, sampo, sabun, detergent, dll. Pokoknya itu kantong plastik keramat ga jumpa. Akhirnya nanya sama mba’-mba’ yang jaga mini market. Ternyata kaga’ ada. Deu, kaciwa saya. karena waktu makin mepet, akhirnya saya pasang gas, muter lagi ke warung kecil yag sebelumnya. Setelah basa-basi sejenak dengan motor saya, akhirnya masuk ke warung, langsung nanya ke pokok permasalahan sama pemilik warungnya, kantong plastik. Dan ternyata, ADA. Alhamdulillah.

Sebenarnya disini sih inti ceritanya (intermezzo saya selalu panjang ya -_-“). Di sepanjang perjalanan itu bener-bener mikir. Untuk kali ini pake otak, dengkul saya lagi istirahat. Pokonya kepikiran. Entah kenapa kejadian pencarian kantong plastik, warung, dan mini market tadi saya kait-kaitkan dengan penilaian kita terhadap seseorang, terutama saat mencari pasangan hehheh.. *siap-siap dilempar semangka*

Terkadang beberapa di antara manusia acap menilai seseorang dari tampilan luar. Seolah yang necis dan bermuka intelek berisi “lengkap”, seperti mini market tadi. Seolah yang tampan dan cantik nilai otak dan hati nya sama dengan nilai wajahnya. Bisa jadi iya, tapi bisa jadi malah kamuflase saja. Isinya kopong. Begitupun yang tampilannya biasa saja dan berwajah standar. Acap dinilai “tidak lengkap”, padahal bisa jadi lebih berisi. Bisa jadi lebih dalem dari yang dikira. Tapi karena diri sendiri sudah meng-under-estimate-kan perkara “cover” nya tak bagus. Yang dalem dan berisi itu pun terlewatkan.

Buktinya banyak kalo cerita beginian. Dari kisah suami istri pendiri Stanford University yang dulunya ditolak Direktur Harvard gegara penampilannya yang biasa saja (lagi-lagi), sampai dongeng nya saya waktu kecil, si itik buruk rupa. Membuktikan tampilan luar tidak menjamin apa-apa.

Pesannya bukan tampilan tidak penting. Bagaimanapun dai/daiyah setiap gerak-geriknya adalah dakwah. Namun jangan sampai kita memperlakukan orang lain secara berbeda karena perbedaan cover. Bisa-bisa menyesal nantinya.

Begitu ceritanya tentang Soto Medan tadi… hehhe…

Allahu a’lam bish showab

Ra By Tah

Pengamat Langit

Dari Abu Hurairah ‘Abdurrahman Bin Shakhr RA, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak melihat bentuk tubuhmu dan tidak pula melihat rupamu tetapi Allah melihat hatimu.”

(HR. Muslim)

One thought on “Sebelum Soto Medan disajikan

  1. Redaksi Hadits di akhir tulisan perlu dilengkapi lagi krn dlm riwayat lain ada tambahan: “…….Allah akan melihat hatimu dan amalan-amalan kamu.” sehingga tdk akan terjadi salah persepsi terhadap makna hadits.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s