Uncategorized

FootNote [lost symbol edition]

Setelah membaca The Lost Symbol seutuhnya. Secara kemarin baru setengah-setengah, akhirnya malam lalu saya menuntaskan bacaan setebal bantal itu.

Dan Brown memang Penulis konspirasi jempolan. Banyak kosakata masa lampau yang saya dapat dari buku-bukunya. Saya yakin, yang pertama kali membaca bukunya pasti selalu penasaran untuk membuka lembar selanjutnya. Belum lagi kecerdasannya mengkombinasi antara sejarah dan ilmu pengetahuan dalam sebuah kisah konspirasi. Tapi entah kenapa, untuk kali ini, setelah membaca bukunya (The Lost Symbol) saya merasa bosan. Bosan dengan alur ceritanya. Sepertinya mungkin karena keseringan baca karya-karyanya, jadi hafal dan kenal dengan alur cerita yang dibuatnya.

Juga sebenarnya ada beberapa bagian yang mengganjal di hati. Tentang Freemason terutama. Baru sadar juga, sepertinya di setiap buku-buku Dan Brown, organisasi-organisasi purba seperti Freemason, Illuminati dan perkumpulan-perkumpulan sejenis lainnya dicitrakan sebagai organisasi yang tercerahkan, bijaksana, dan penuh kebaikan.

Saat membacanya pun saya selalu kepikiran bahwa si Robert Langdon itu adalah Dan Brown sendiri. Sampai sekarang saya ga’ tau agama si Robert Langdon itu apa, Kristen atau Atheis? Atau mungkin saja ada yang terlewatkan oleh saya. Tapi yang jelas dari penilaian saya dia bukan salah seorang dari umat kristen, apalagi Islam.

Dan kemudian CIA (Central Intelligence Agency). Di buku ini dicitrakan bahwa CIA adalah organisasi super dengan peralatan canggih. Padahal di buku Tim Weiner (MEMBONGKAR KEGAGALAN CIA) ‘citra’ CIA yang baik itu terpatahkan sama sekali. Banyak kegagalan CIA yang tidak diekspos. Saya jadi berpikiran, film-film hollywood dan beberapa buku made in west digunakan untuk mendompleng kembali martabat CIA yang ketauan belangnya.

Dajjal juga tidak dibahas. Padahal antara organisasi-organisasi purba dengan si Dajjal itu berkaitan. Hubungannya seperti Tuan dan Anak Buahnya. Mata satu yang menghiasi lembaran dollar uang Amerika itu (atau yang kita kenal sebagai Mata Dajjal) juga di-image-kan sebagai Sang Pencerah. Ya wajar aja sih, Penulisnya kan Dan Brown, jadi wajar dia menuliskan sesuai pandangan dia sendiri.

Saya jadi meng-iya-kan pendapat Pak Rizki Ridyasmara dalam bukunya “Knights Templar Knights of Christ”. Ada bagian-bagian yang tidak diungkap oleh Dan Brown dalam buku-bukunya.

Buku-buku Dan Brown memang harus diakui adalah buah karya di atas standar bagus. Tapi saya rasa kita juga harus hati-hati untuk tidak menelan mentah-mentah setiap apa yang kita baca. Hanya pendapat saya.

Allahu’alam bish showab…


pindahan dari : http://rabytah.multiply.com/journal/item/54

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s