Uncategorized

“Manga kok harus puaso, Mak?” [Part II]

Sambungan dari yang disini –> https://dibumi.wordpress.com/2010/07/29/manga-kok-harus-puaso-mak/

WAKTU-WAKTU YANG DIMAKRUHKANNYA BERPUASA

Mengkhususkan bulan Rajab untuk Berpuasa

Berpuasa satu bulan penuh pada bulan Rajab merupakan amalan yang dimakruhkan. Akan tetapi, jika ada wanita Muslimah yang hendak berpuasa pada itu, maka hendaklah ia berpuasa secara berselang. Karena, ini merupakan bulan yang diagungkan oleh orang-orang jahiliyah. Sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwa apabila melihat orang-orang jahiliyah dan semua persiapan mereka untuk menyambut bulan Rajab, maka ia (Ibnu Umar) membencinya seraya berkata : “Berpuasa dan berbukalah pada bulan itu.” (hr. Ahmad)

Pada hari Jum’at saja

Dimakruhkan bagi wanita Muslimah berpuasa hanya pada hari Jum’at saja. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu’alahi wasallam :

“Sesungguhnya hari Jum’at itu merupakan hari raya bagi kalian. Karena itu, janganlah kalian berpuasa, kecuali apabila juga kalian berpuasa pada hari sebelum dan sesudahnya.” (hr. al-Bazzar)

Pada hari Sabtu saja

Selain hari Jum’at mengkhususkan puasa pada hari Sabtu saja juga dimakruhkan, kecuali jika diikuti berpuasa pada hari sebelum dan sesudahnya. Hal ini berdasarkan pada hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Basar, dimana ia berkata, bahwa Nabi shallallahu’alahi wasallam bersabda :

“Janganlah kalian berpuasa pada hari Sabtu, kecuali yang diwajibkan atas kalian.” (hr. at-Tirmidzi)

Pada hari yang diragukan

Dimakruhkan bagi wanita Muslimah berpuasa pada hari yang diragukan, yaitu hari ketiga puluh bulan Sya’ban. Hal ini sebagaimana disabdakan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam :

“Barangsiapa berpuasa pada hari yang diragukan, maka ia telah menentang Abul Qasim (Nabi Muhammad).” (hr. al-Bukhari)

Berpuasa khusus pada tahun baru dan hari besar orang kafir

Hendaklah wanita Muslimah mengetahui, bahwa mengkhususkan puasa pada tahun baru atau pada hari-hari besar (hari raya) orangkafir itu dimakruhkan. Karena, hal itu merupakan hari-hari yang sangat diagungkan oleh orang-orang kafir. Sehingga mengkhususkan puasa padanya merupakan bentuk pengagungan.

Puasa Wishal

Yaitu puasa selama 2 atau 3 hari tanpa berbuka. Menurut mayoritas ulama, puasa wishal itu hukumnya makruh. Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam :

“Janganlah kalian berpuasa wishal.” (hr. al-Bukhari)

Demikian juga dengan sabdanya :

“Hindarilah oleh kalian puasa wishal.” (Muttafaqun Alaih)

Diriwayatkan dari Ibnu Umar, ia menceritakan :

“Rasulullah pernah puasa wishal pada bulan Ramadhan, lalu diikuti oleh para shahabatnya. Setelah itu, beliau melarang puasa wishal. Kemudia para shabat bertanya: bukankah engkau melaksanakan puasa wishal, wahai Rasulullah? Maka baka beliau menjawab : Sesungguhnya aku tidak seperti kalian, aku ini makan dan juga minum.” (Muttafaqun Alaih)

Dalam hal ini menuntut adanya pengkhususan diri bagi Rasulullah terhadap masalah tersebut dan sekaligus larangan menghubungkannya dengan umat Islam., laki-laki maupun perempuan. Sabda Rasulullah, “Aku ini makan dan minum juga” menerangkan pada kita, bahwa Allah subhanawata’ala membantu beliau didalam menjalankan puasa tersebut.

Puasa Dahr

Yaitu puasa yang dilakukan selama satu tahun penuh. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu’alahi wasallam melalui sabdanya :

“Tidak dianggap berpuasa bagi orang yang berpuasa selamanya.” (hr. Muslim)

Puasanya seorang istri tanpa seizin Suami

Dimakruhkan bagi wanita Muslimah yang berpuasa tanpa seizin suaminya, selain pada bulan Ramadhan. Sedang pada saat itu suaminya tengah berada disisinya. Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah :

“Janganlah seorang wanita berpuasa pada suatu hari, ketika sang suami berada disisinya, melainkan dengan izinnya. Kecuali pada bulan Ramadhan.” (Muttafaqun Alaih)

Puasa dua hari terakhir bulan Sya’ban

Selain itu, juga dimakruhkan berpuasa pada dua hari terakhir dari bulan Sya’ban. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu’alahi wasallam :

“Janganlah salah seorang di antara kalian mendahului Ramadhan dengan puasa satu atau dua hari, kecuali bagi orang yang terbiasa melaksanakan puasa, maka boleh baginya berpuasa.” (Muttafaqun Alaih)

Akan tetapi, diperbolehkan bagi wanita Muslimah berpuasa pada kedua hari tersebut apabila ia melaksanakan puasa berselang hari atai untuk membayar utang puasa yang gugur karena haid maupun sakit pada bulan Ramadhan yanglalu, dimana ia khawatir tidak dapat menjalankannya pada kesempatan lain.

Sumber : Fiqih Wanita (al-Jami’ fii Fiqhi an-Nisa’) – Syaikh Kamil Muhammad ‘Uwaidah

bersambung…

http://rabytah.multiply.com/journal/item/89/Manga_kok_harus_puaso_Mak_Part_II

One thought on ““Manga kok harus puaso, Mak?” [Part II]

  1. nah perkara2 sperti ini pnting diktahui, bgus mbak, saya dkng. sering2 sebarkan seperti ini, karena banyak muslimin yang gak tahu sperti ini, barakallahu fiik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s