Uncategorized

Manga kok harus puaso, Mak?

Kali ini khusus wanita. Tapi untuk laki-laki juga tak masalah. Siapa tau mau dibagi-bagikan ke Ibunda, adik perempuan, anak perempuan atau bahkan istri (bagi yang sudah punya saja). Buat yang sudah punya istri pembahasan ini cocok sekali untuk Anda sisipkan saat sedang berpacaran di sore nan cerah bersama istri tercinta sambil bercanda menikmati teh berdua (hayah.. lari kemana ini..) just relaxing your mind before we take the lesson. Sebagai bekal kita juga kalau nanti sudah jadi Amak-Amak ditanya samo anak gadis kito nan rupawan macam Amaknyo, “Manga kok harus puaso, Mak?”

Bismillahirramnirrahim…

Bab puasa ini saya copaste abis-abisan dari Kitab Fiqih Wanita (al-Jami’ fii Fiqhi an-Nisa’) karya Syaikh Kamil Muhammad ‘Uwaidah. Jadi dalam hal ini, saya pun sedang belajar bersama-sama kamu. Semoga bisa saling berbagi dan sila jika hendak memberi koreksi atau tambahan.

Aslinya Bab Puasa pada Kitab ini ada 17 poin yang dijabarkan. Tapi nantinya yang terpapar disini adalah ringkasan sederhananya (dan bersambung). Poin-poin pentingnya saja, soalnya penjabarannya panjang. Khawatir kalau saya bahas semua disini, kamu nya jadi tak sabaran sehingga mengakibatkan dirimu ingin sekali bertemu denganku untuk membahas hal ini. Jadi kuringkas saja sedemikian rupa. Semoga bermanfaat.

DEFINISI PUASA

Menurut bahasa puasa berarti menahan. Sedangkan menurut syari’at puasa berarti menahan diri secara khusus dan dalam waktu tertentu sesuai dengan syarat-syarat tertentu pula. Menahan diri disini termasuk ibadah. Karena, harus menahan diri dari makanan, minuman dan berhubungan badan serta seluruh macam syahwat, dari sejak terbit fajar sampai terbenamnya matahari.

KEWAJIBAN PUASA RAMADHAN

Menurut al-Quran, al-Hadits, dan Ijma’, puasa pada bulan Ramadhan merupakan amal ibadah yang diwajibkan bagi wanita Muslimah yang berakal sehat dan telah mencapai usia baligh. Di dalam al-Quran, Allah subhanawata’ala berfirman :

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian.” (al-Baqarah : 183)

Dalam hadits disebutkan, dari Thalhah bin ‘Ubaidillah, ia menceritakan : “Ada seorang Badui yang datang kepada Rasulullah dengan rambut yang kusut seraya bertanya : Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku shalat apa saja yang diwajibkan oleh Allah? Rasulullah menjawab : Hanya shalat lima waktu, kecuali jika kamu hendak menambahnya dengan shalat sunnah. Orang tersebut bertanya kembali : Beritahukan pula kepadaku puasa apa yang diwajibkan oleh Allah? Rasulullah menjawab : Hanya puasa Ramadhan, kecuali jika kamu hendak berpuasa sunnah. Orang tersebut bertanya lagi : Beritahukan kepadaku zakat apa yang harus aku bayarkan? Maka Rasulullah pun menerangkan kepadanya tentang syari’at Islam. Akhirnya, orang Badui tersebut berkata : Demi Allah yangtelah mengutusmu dengan kebenaran, sedikitpun aku tidak akan menambah maupun mengurangi kewajiban yang telah difardhukan oleh Allah atas diriku. Kemudian Rasulullah pun berkata : Beruntunglah jika ia benar atau akan dimasukkan ke dalam syurga jika benar.” (Muttafaqun Alaih)

KEUTAMAAN PUASA

Dari Abu Hurairah, ia berkata, bahwa Rasulullah telah bersabda : “Puasa itu perisai. Apabila salah seorang di antara kalian berpuasa, hendaklah ia tidak berkata keji dan membodohi dia. Jika ada seseorang memerangi atau mengumpatnya, maka hendaklah ia mengatakan : Sesungguhnya aku sedang berpuasa. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut yang keluar dari orang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah daripada bau kasturi. Orang berpuasa itu meninggalkan makanan dan minumannya untuk diri-Ku (Allah). Maka puasa itu untuk diri-Ku dan Aku (Allah) sendiri yang akan memberikan pahala karenanya. Kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya.” (hr. Al-Bukhari)

Dari Abu Umamah, ia menceritakan : “Aku pernah mendatangi Rasulullah seraya berkata : Perintahkanlah kepadaku suatu amalan yang dapat memasukkan aku ke syurga. Beliau menjawab : Hendaklah kamu berpuasa, karena puasa itu merupakan amalan yang tidak ada tandingannya. Kemudian aku mendatangi beliau untuk kedua kalinya dan beliau pun berkata dengan nasihat yang sama.” (hr. Ahmad, an-Nasa’i, dan al-Hakim)

Dari Sahal bin Sa’ad, ia berkata, bahwa Nabi shallallahu’alahi wasallam bersabda : “Sesungguhnya surga itu mempunyai satu pintu yang disebut Babu ar-Rayyan. Pada hari kiamat nanti pintu tersebut akan bertanya : Dimana orang-orang yang berpuasa? Apabila yang terakhir dari mereka telah masuk, maka pintu itu akan tertutup.” (Muttafaqun Alaih)

HARI-HARI DISUNNAHKANNYA PUASA

Hari Arafah

Hari Arafah jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah

Rasulullah shallallahu’alahi wasallam bersabda : ”Puasa pada hari Arafah itu dapat menghapuskan dosa selama dua tahun, satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang. Adapun puasa ‘Asyura dapat menghapuskan dosa selama satu tahun yang telah berlalu.” (hr. Muslim)

Hari Asyura’

Puasa hari Asyura’ pada bulan Muharram merupakan amalan yang disunnahkan. Puasa pada hari ini dapat menghapuskan dosa selama satu tahun sebelumnya. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam :

“Aku memohon Allah untuk menghapuskan dosa yang pernah aku perbuat pada tahun sebelumnya.” (hr. Muslim)

“Rasulullah memerintahkan puasa pada hari Asyura’, yaitu tanggal 10 dari bulan Muharram.” (hr. At-Tirmidzi)

Mu’awiyah pernah berkata, aku pernah mendengar Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya pada hari Asyura’ ini Allah tidak mewajibkan kalian berpuasa. Barangsiapa menghendaki, maka diperbolehkan baginya berpuasa dan bagi siapa yangtidak menghendaki, maka ia boleh berbuka.” (hr. At-Thabrani)

Enam hari pada bulan Syawal

“Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan, lalu dilanjutkan dengan puasa enam hari pada buan Syawal, maka nilainya seperti berpuasa sepanjang tahun.” (hr. Muslim, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi)

Puasa pada enam pada bulan Syawal ini boleh dikerjakan secara berturut-turut dan boleh juga berselang waktunya. Seperti berpuasa pada hari Senin dan Kamis saja setiap minggunya, sehingga berjumlah enam hari.

Pada bulan Sya’ban

“Aku tidak pernah melihat Nabi shallallahu’alaihi wasallam menyempurnakan puasa satu bulan penuh selain puasa bulan Ramadhan. Dan aku tidak melihat beliau pada bulan-bulan yang lain berpuasa lebih banyak dari bulan Sya’ban.” (Muttafaqun Alaih)

Sepuluh hari pertama pada bulan Dzulhijjah

“Tidak ada hari dimana amal shalih didalamnya lebih dicintai Allah Azza wa Jalla daripada hari-hari ini (10 hari pertama dari bulan Dzulhijjah). Para sahabat bertanya : Wahai Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah? Beliau menjawab : “Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali seorang yang berangkat dengan membawa jiwa dan hartanya, lalu kembali tanpa membawa sedikitpun dari keduanya.” (hr. Al-Bukhari)

Berselang

Selain puasa-puasa diatas, disunnahkan juga puasa berselang yaitu satu hari berpuasa dan satu hari selanjutnya tidak.

Dari Abdullah bin Amr bin al-’Ash, dimana Nabi shallallahu’alahi wasallam  pernah bersabda kepadanya : “Berpuasalah satu hari dan berbukalah satu hari berikutnya. Yang demikian itu merupakan puasa yang Nabi Dawud dan merupakan puasa yang baik. Kemudian aku berkata : sesungguhnya aku mampu melakukan lebih dari itu. Maka Nabi pun menjawab : Tidak ada yang lebih baik dari itu.” (Muttafaqun Alaih)

Pada bulan Muharram

Dari Abu Hurairah ia menceritakan : bahwa Rasulullah telah bersabda : “Sebaik-baik puasa setelah bulan Ramadhan adalah pada bulan Allah. Yaitu Muharram.” (hr. Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

Imam at-Tirmidzi mengatakan, bahwa hadits ini berstatus Hasan Shahih.

Senin Kamis

Juga disunnnahkan bagi wanita Muslimah untuk berpuasa Senin dan Kamis. Hal ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan dari Usamah bin Zaid, dimana Rasulullah senantiasa berpuasa pada hari Senin dan Kamis. Beliau pernah ditanya seseorang mengenai hal itu. maka beliau menjawabpun menjawab : “Sesungguhnya amal  perbuatan manusia diangkat menuju Allah pada hari Senin dan Kamis.” (hr. Abu Dawud)

Pertengahan bulan Qamariah

Tanggal 13, 14, dan 15 dari setiap bulan Qamariah (tahun Hijriyah) merupakan tanggal yang dikhususkan oleh Rasulullah untuk berpuasa sunnah. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia menceritakan : Rasulullah berpesan kepadaku tiga hal : “Berpuasa tiga hari pada setiap bulannya, mengerjakan dua raka’at shalat Dhuha, serta shalat witir sebelum tidur.” (Muttafaqun Alaih)

Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘ash, ia berkata : Bahwa Nabi shallallahu’alahi wassalam pernah bersabda kepadanya : “Berpuasalah setiap bulannya 3 hari. Karena sesungguhnya kebaikan pada hari itu dihitung dengan sepuluh kelipatannya, yang nilainya sama seperti berpuasa sepanjang tahun.” (Muttafaqun Alaih)

Beliau juga bersabda kepada Abu Dzar al-Ghiffari : “Wahai Abu Dzar, apabila engkau hendak berpuasa sunnah pada setiap bulannya, maka laksanakanlah pada tanggal 13, 14, dan 15.” (hr. At-Tirmidzi)

bersambung…

http://rabytah.multiply.com/journal/item/88/Manga_kok_harus_puaso_Mak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s