Uncategorized

Seberapa pantas ?

Sebuah kesuksesan besar lahir dari sebuah totalitas, dan sebuah totalitas lahir dari keistiqomahan bergerak. Istiqomah, inilah, bagian yang sulit (tapi selalu mungkin). Sejak zaman kemerdekaan Indonesia hingga kini, telah tercetak kalimat tebal dimasing-masing kepala anak bangsa, “mencapai kemerdekaan sulit, lebih sulit lagi mempertahankannya.” Kalimat ini terkenal di seluruh nusantara. Sebuah kalimat yang ditanamkan sejak kita masih belum pandai mengelap ingus sendiri. Kalimat yang sudah ditabur ke dalam otak sejak kita memakai baju merah putih di sekolah dasar.

Mempertahankan. Dengan kata lain bagaimana agar tetap konsisten, tidak hanya sekedar mencapai, tapi kemudian mundur ke belakang lagi, atau tetap diam ditempat, lalu sudah selesai. Sama seperti ketika kita menghafal al-Quran. Menghafal surah ke surah bukanlah perkara tersulit. Ini sudah jaminan Allah bahwa al-Quran mudah untuk dihafal oleh hamba-hamba-Nya (al-Isra’ : 17). Namun bagian tersulit adalah mempertahankan hafalan tersebut. Maksiyat sekecil apapun sanggup menjadikan mulut terbata mengulangnya, bahkan menghilangkannya sama sekali dari memori.

Sama juga ketika kita merencanakan sesuatu pada sebuah table-plan, menentukan apa-apa saja yang mesti kita lakukan terlebih dahulu dan nanti. Menuangkan perencanaannya bukan bagian yang terlalu sulit. Tapi yang tersulit adalah bagaimana konsisten dalam melaksanakan rencana-rencana yang sudah dibuat.

Banyak hal yang kita inginkan, namun seberapa pantas kita mendapatkannya. Jika istiqomah saja pasang surut. Jika mau tapi hanya sekedar ingin. Namun lalai berjuang.

Tidak ada namanya totalitas setengah-setengah. Jika setengah-setengah, maka itu jelas bukan totalitas. Untuk tau semua perkara itu adalah suatu hal yang tak rumit. Untuk menuliskan nya pun bukan hal yang terlalu sulit. Menjalankannya dan istiqomah, tidak semua orang yang bisa. Jika gampang, maka semua orang di dunia ini tidak akan ada yang tidak sukses. Konsistensi pada kebaikan, itu yang harus kita miliki.

-yang masih (juga) tertatih-

Ira Mh. Syamsuddin
Pustakawan

di Bumi, 08 September 2010 [00.00]

———————————————————————————–

Imam Nawawi berkata: “Para ulama berkata: “Makna istiqomah adalah: Terus menerus dalam ketaatan kepada Allah.” (lihat Riyadhus Shalihin).

Ibnul Qayyim mengatakan: “AI istiqomah adalah beribadah kepada Allah dengan hakikat kejujuran dan memenuhi semua janji.” (Madarijus Salikin 2/105).

Abu Bakar mengatakan ketika beliau ditanya tentang istiqomah: “Kamu tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun”.

Umar bin Khattab mengatakan: “Istiqomah adalah kekokohan dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larangan dan tidak menengok (ke kanan dan ke kiri) bagaikan srigala.”

Utsman berkata: “Mereka istiqomah, artinya mengikhlaskan din untuk Allah.”

Ali berkata: “Menunaikan kewajiban-kewajiban.” (Madarijus Salikin 2/104)

Ibnul Qoyyim mengatakan: “Perumpamaan istiqomah terhadap kondisi dan keadaan sekarang bagaikan ruh dengan jasad. Sebagaimana badan apabila terlepas dari ruh akan menjadi bangkai, begitu juga keadaan sekarang apabila terlepas dari istiqomah akan menjadi rusak.” (lihat Madarijus Salikin 2/106)

One thought on “Seberapa pantas ?

  1. Pingback: Seberapa pantas ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s