Uncategorized

Akhirnya.. ke bioskop juga (Sang Pencerah Edition)

Tulisan singkat ini hanya sekedar pendapat saya pribadi tentang film Sang Pencerah besutan Hanung Bramantyo yang saya tonton lusa siang.

Ya! Akhirnya saya ke bioskop juga. Setelah sekian lama. Cuma demi film ini. Sempat merepet dalam hati, “Awas aja kalo sampe ga bagus.”

Ternyata. Iya! Bagus! Selain alasan karena saya memang suka buku ataupun film dengan background sejarah. Cuma tetap ada beberapa hal yang saya garis bawahi selepas menontonnya.

Tentunya kita tau latar belakang sutradaranya, Hanung Bramantyo. Film Hanung sebelumnya pernah menuai kontroversi, Perempuan Berkalung Sorban (PBS), karena lebih bermuatan kepada nuansa liberal dan pendiskreditan kehidupan pesantren daripada syiar Islam sendiri. Di film PBS ini pun Hanung banyak melakukan penyimpangan dari novel aslinya, bahkan penyimpangan sejarah (Taufiq Ismail).

Kalau filmnya yang lain saya kurang tau. Ada satu filmnya Lentera Merah. Itu juga saya lebih mengenalnya sebagai film horror ketimbang film komunis. Komunis? Saya belum pernah nonton, jadi ga bisa komentar banyak soal film ini. Tapi dari hasil blog-walking tadi, film ini kental bernuansa komunis. Googling aja deh. Panjang ntar dibahas disini.

Di filmnya kali ini, bercerita mengenai biografi hidup KH. Ahmad Dahlan, Pendiri Muhammadiyah. Awal-awalnya sudah mulai berpikir, “ada perubahan dengan film Pak Hanung.” Namun semakin ke tengah semakin banyak pula yang mengganjal. TIDAK SEMUA, tapi ADA.

Di Bagian Boedi Oetomo. Menurut saya, film ini “terlalu baik” mencitrakan Boedi Oetomo kalau mengingat-ngingat sepak terjang Boedi Oetomo di era yang lampau. Saya tidak berlebihan. Kalau filmnya tentang freemasonry ya ndak apa-apa dicitrakan baik, wajar. Nah, masalahnya ini di film biografi KH. Ahmad Dahlan, salah satu pionir organisasi dakwah di Indonesia. Boedi Oetomo tidak lain tidak bukan adalah organisasi yang sangat membenci Islam dan pernah menghina Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam.

Bahkan dalam bukunya, API SEJARAH 2, Prof. Ahmad Mansur Surya Negara mengatakan, sebaiknya pemerintah mengkaji ulang keputusan menetapkan hari lahir Boedi Oetomo sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Penghinaan pertama organisasi ini pada Rasulullah saw tercatat pada tanggal 9 dan 11 Januari 1918 M melalui media mereka, Djawi Hisworo.  Kemudian pada Majalah Swara Oemom 18 Juni 1930 yang dipimpin oleh Dr. Soetomo. Melalui artikel yang ditulis oleh Homo Soem, mereka melancarkan aksi anti haji dan anti Islam. Dan seterusnya (di tulisan saya berikutnya, insyaAllah, akan dibahas, panjang sih).

Inget bagian setelah KH. Ahmad Dahlan naik haji? Ada scene-scene yang bertuliskan “Allah meliputi udara, Allah meliputi air…….” (cuma itu tulisan yang saya ingat, kalo ga’ salah satu lagi “pasir”). Intinya Allah meliputi makhluk-Nya. Setau saya itu merupakan ajaran Wihdatul Wujud, atau orang Jawa bilang Manunggaling Kawula Lan Gusti, yaitu penyatuan makhluk dengan Tuhan-nya. Paham ini dulu dibawa oleh Syekh Siti Jenar.

Ini malah jadi mengingatkan saya pada Dr. Soetomo, tokoh Pendiri Boedi Oetomo, bukan pada KH. Ahmad Dahlan. Kepada K.H. Mas Mansoer, Dr. Soetomo mengaku, bahwa segenap Alam raya merupakan penjelmaan dari Tuhan dan manusia sebagai penjelmaan Tuhan paling akhir. Oleh karena itu, manusia sebagai penjelmaan Tuhan tidak perlu melakukan shalat seperti yang diajarkan Rasulullah saw.

Lalu mengenai kontroversi pemeran-pemerannya. Saya sendiri hanya tau, tapi tidak mendalam mengenai latar belakang Lukman Sardi (pemeran KH. Ahmad Dahlan dalan film ini). Berita yang beredar ada dua buah, pertama ada yang bilang dia sudah keluar dari Islam, alias murtad, dan kedua ada juga yang mengatakan dia masih Islam, cuma Istrinya yang non-Muslim. Keduanya tetap saja tidak patut dicontoh. Terlepas dari mana yang benar (Mudah-mudahan beliau masih tetap seorang Muslim), sudah selayaknya film yang akan dikonsumsi masyarakat, apalagi film yang katanya bergenre RELIGI, diperankan oleh orang-orang yang bisa dijadikan panutan.

Coba deh Anda yang jadi sutradara film ini, pasti kriteria yang Anda pilihpun tidak jauh-jauh dari karakter tokoh aslinya. Karena film ini membawa sejarah hidup orang lain, seorang tokoh dari dunia ISLAM.

Para artis ini adalah publik figur. Suka atau tidak, mau tidak mau, paham tidak paham, ga’ sedikit masyarakat (pemuda) yang akan menjadikan mereka panutan. Jadi sudah selayaknya seorang sutradara yang bijak memilih seorang dengan karakter yang baik untuk filmnya, bukan sekedar alasan komersil. Menurut anda sendiri, kalau Anda yang berada diposisi Didi Petet dan Deddy Mizwar, siapa yang akan Anda pilih jadi pemeran Ana Althafunnisa, Julia Perez atau Oki Setiana Dewi? (lagi) menurut Anda, apa mungkin Mira Lesmana dan Riri Reza akan memakai lagi Ariel Peter Pan sebagai pemeran Arai di film Edensor (kalo-kalo di-filem-in)? Kalo iya, komentar saya Cuma, “WEW!”

Lalu, anda inget pasti kan scene komplotan penganut kejawen saat ingin membakar Langgar Kidul KH. Ahmad Dahlan, mereka berteriak, “Allahuakbar! Allahuakbar!!” disepanjang jalan. Menurut anda seperti mencitrakan sesuatu tidak? (yah, pencitraan lagi). Yah, wajar lagi dong. Film kan alat propaganda juga, salah satu alat mengkritik, menyampaikan. Apa yang disampaikan oleh Film pasti terkait dengan pemahaman SIAPA yang membuatnya.

Di zaman sekarang, hal tersebut adalah teriakan semangat khas aktivis-aktivis Islam saat mereka melakukan aksi, aktivis dari organisasi Islam manapun. Saya bilang teriakan khas ya, bukan berarti hanya milik kelompok tertentu. Soalnya belum pernah saya dengar anak-anak marxis teriak-teriak Allahuakbar😀 .

Lantas? Ya menurut saya aneh saja kalau itu keluar dari mulut-mulut penganut kejawen anarkis yang mau membakar tempat pengajian. Kalau “bakar! Bakar!!!” itu saya percaya. Hemat saya, scene ini karangan Pak Hanung only, sama seperti ketika dia mengarang adegan rajam di film PBS, padahal di era itu, rajam di pesantren tidak ada. (sekarang ada ya?). Teriakan Allahuakbar dan semangat Jihad seperti ini pertama kali dipopulerkan oleh Bung Tomo (10 November 1945), sebelum zamannya KH. Ahmad Dahlan.

Itu saja yang saya tangkap. Kekurangan nya ditambahkan, kalo kelebihan ya dikoreksi. Oya, yang saya sampaikan adalah apa yang saya pahami dan yakini, walaupun hanya berupa tulisan kecil. sama seperti Pak Hanung, pasti dia menyampaikan sesuatu lewat film ini sesuai dengan apa yang dia yakini.

Saran gratis saya, sebelum nonton film ini, ada baiknya kita membaca dahulu perjalanan hidup KH. Ahmad Dahlan dari buku sejarah. Tapi jangan versi sejarah pemerintah. Banyak tanda bintang nya😀

“…wal tanzhur nafsummaa qoddamat lighod…”

“… perhatikan Sejarahmu untuk hari esok mu…”

(al-Hasyr [59] : 18)

*Kalau ada yang paling saya tunggu, film biografi tentang Muhammad Natsir dan Buya Hamka, besutan pak Chairul Umam (sutradara Ketika Cinta Bertasbih) #ngarep😀

Referensi :

–          Api Sejarah (Prof. Ahmad Mansur Surya Negara)

–          Api Sejarah 2 (Prof. Ahmad Mansur Surya Negara)

di Bumi | 15 September 2010 | 21.23 wib

http://rabytah.multiply.com/journal/item/96/

10 thoughts on “Akhirnya.. ke bioskop juga (Sang Pencerah Edition)

  1. assalamu ‘alaikum warahmah,,,,,

    ane lum bisa mengomentari tulisan ini (coz belum tahu biografi rinci ttg KH. Ahmad Dahlan)

    hanya barangkali ane punya harapan sama “pengen liat film Biografinya Buya Hamka” ,,,
    ditunggu lho Mr. Chirul Umam

    1. ‘alaykumsalaam wrwb😀 aamiin ya Allah
      semoga berikutnya Buya Hamka dan Moh. Natsir
      sebenernya banyak pahlawan2 Indonesia yg bisa ditauladani para pemuda Indonesia
      ane pgn bgt tuh ada sineas yg sanggup filemin Perang Badar, it must be great!😀

  2. Memang begitu yang namanya “industri” perfilman, keuntungan komersial satu2nya tujuan. hanya satu atau dua saja sutradara yang tidak menghilangkan makna “Film” yg sebenarnya yaitu mengangkat cerminan budaya komunitas secara benar atau mengangkat sejarah secara utuh tanpa rekayasa. ini yang di keluhkan selamat raharjo berkaitan dengan perfilman di Indonesia. semoga kedepan semakin banyak orang seperti Hibaburrahman dan Chairul Umam yang menghisai dunia seni Film di Negeri kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s