Uncategorized

Sudah Saatnya?

SAATNYA UNTUK MENIKAH. Buku karya ustadz Mohammad Fauzil Adzim ini berpindah dari toko buku ke rak buku saya secara halal pada tanggal 31 Maret 2008, dibeli tepat saat saya berusia 21 tahun lebih enam hari, tunai. Buku yang tetap terasa “panas” di tangan hingga saya mencapai umur 23 tahun, hehe..

Pernah saya posting singkat di blog lama saya, tak disangka setelah mem-posting beberapa menit kemudian tiba-tiba ada SMS (Short Message Service) masuk ke inbox handphone ganteng saya yang sekarang sudah berpindah tangan (hilang maksudnya). Saya heran juga riang gembira, karena SMS nya dari M-KIOS. Pulsa nyasar kah? Saya kira Telkomsel lagi ngajak bercanda. Tapi setelah diteliti dengan harap-harap cemas dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, pulsa saya beneran terisi Rp 10.000,- (padahal baru isi Rp 25.000,- lho kemarinnya!). Saya tidak tau apakah pulsa ini memang ada yang niat mengirim atau ada yang lagi khilaf salah kirim atau lagi ini mungkin sinyal-sinyal persetujuan dari-Nya atas posting-an saya itu. Bagian terakhir berusaha untuk berprasangka baik (padahal sih ngarep.com) Tapi saya ucapkan syukron katsir, saya doakan semoga yang ngirim atau yang lagi nyesel salah kirim dimurahkan rezekinya dan moga juga sering-sering nyasar ke saya.

Secara sengaja, perkara pulsa nyasar ini mengingatkan saya pada firman Sang Pemilik Cinta yang tertinta pada surat An-Nuur ayat 24, dimana Allah subhanawata’ala memberi garansi mutlak bagi mereka yang ingin menikah (namun) terbersit kekhawatiran tentang kemampuan finansialnya ;

Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan (mengkayakan) mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Gimana ngga’ terngiang, baru mosting singkat tentang nikah aja sudah kebagian pulsa Rp 10.000,- gimana kalau direalisasikan (hehehe… ngarang.net).

Menikah. Topik yang digandrungi para bujangers. Kalau ada yang posting topik ini di blog ataupun jejaring sosial lainnya dijamin deh komentar-komentarnya seabreg-abreg. Sebenarnya saya sendiripun masih merasa kurang pantas menulis tentang topik menikah, secara saya sendiri BELUM MENIKAH (eh, kepencet capslock-nya). Tapi ya mau gimana lagi, sudah tuntutan peran, buku yang saya bahas tentang Menikah, bukan jemuran.

Bagi saya pribadi, buku ini membekas tegas dan dalam. Selain karena belinya sambil malu-malu di toko bukunya (waktu itu saya masih kuliah, padahal mah yang jual cuek beybeh, noleh juga ngga’), buku ini memberi pandangan lain, semacam tambahan vitamin wawasan tentang menikah bagi saya yang masih belajar dan meraba-raba “nikah itu benda apa sih?”

Melalui buku ini persepsi saya tentang menikah bergeser sedikit titik koodinatnya, tidak melulu soal yang “indah-indah” saja. Eh, bukan berarti saya menganggap menikah itu tidak indah ya. Maksud saya ada sisi lain yang sering terabaikan oleh pemuda-pemuda seumuran saya waktu itu, yaitu PERSIAPAN pra-nya, alias perlengkapan sebelum bertempur. Karena sebenar-benarnya, suka maupun duka yang terjadi dalam pernikahan adalah hal-hal yang menjadikan pernikahan itu indah nantinya. Menjadi pernak-pernik yang mempercantik pelaku-pelaku didalamnya. Walau jatuhnya tetap tergantung bagaimana pribadi-pribadi itu memaknainya.

Kalau diflash-back, ingat aja dulu waktu awal-awal ngampus, keinginan kuat banget buat menikah, sedini dan secepat mungkin! Tentu saja ini bukan cuma karena faktor konsumsi bacaan dan kajian-kajian yang diikuti, tapi juga faktor “ulah” kakak-kakak senior yang ngidupin kompor ayo-nikah-dini kalau lagi ngumpul (hehehe… siap-siap disetrap). Jadi bener banget memang apa yang Ustadz Fauzil Adzim katakan dalam buku ini, sesuai realita di lapangan, banyak yang baru mendengar satu atau dua kali kajian pernikahan semangatnya buat nikah kuenceng jiddan, padahal ada banyak kesiapan-kesiapan yang harus disiapkan untuk melangkah ke jenjang pernikahan.

Jadi kawan, kembali ke “perlengkapan bertempur” kita tadi. Hal urgent yang sering terlupa namun vital oleh saya waktu itu adalah kesiapan-kesiapan sebelum mengambil keputusan dan menempuh keputusan yang sudah diambil. Yakni Ilmu. Ini bukan soal pengertian nikah saja, atau darimanakah asal bahasanya, lalu apa tujuannya, apa hukumnya, seperti yang saya pikirkan selama ini. Tapi mencakup hal yang lebih luas lagi. ini yang saya lihat dari kehidupan rumah tangga baik itu orang tua saya mapun kakak-kakak tingkat saya yang sudah menikah. Menikah itu akan meliputi bagaimana melayani suami atau istri, hubungan dengan orangtua dan mertua setelah menikah, hubungan dengan tetangga, lingkungan rumah, rahasia rumah tangga, anak-anak, dapur, nafkah, sampai perkara jima’ (ya ampun! Ini hal yang sempat hampir saya lupakan!), itu semua butuh ilmu. Karena orang yang berilmu lebih sulit digoda setan (hr. Turmudzi). “Ilmu adalah syarat benarnya perkataan dan perbuatan, keduanya tidak akan bernilai kecuali dengan ilmu,…” (Ibnu Munir)

Ini menjadi bahan masukan bagi saya yang waktu itu masih ngebet-tapi-kosong agar terhindar (atau setidaknya meminimalisir) masalah yang timbul akibat ketidaksiapan ilmu dan tanggung jawab. “Nikah bukan hanya soal “kita-berdua”, begitu kata salah seorang kakak tingkat saya.

Kemampuan memenuhi Tanggung jawab. Ini pun maknanya luas, tidak seperti yang saya pikir selama ini. Ketika menikah tanggung jawab bukan soal berdua saja. Sang suami akan bertanggung jawab memberi nafkah pada keluarganya, istri bertanggung jawab mendidik anak-anaknya, menjaga harta suaminya, lingkungan masyarakat hingga yang privasi sekali yaitu tanggung jawab kepada kebutuhan biologis, baik istri maupun suami. Kebutuhan biologis berkaitan kemampuan berjima’ (berhubungan suami istri), yang dimulai dengan malam pertama. Saya yakin, yang seumuran saya dulu pikirannya belum sampai ke hal yang satu ini (termasuk saya!). Biar saya sebutkan “3 padahal” : 1. Padahal nikah pengen banget 2. Padahal jima’ merupakan hal penting dalam kehidupan suami istri 3. Padahal berjima’ pun perlu ilmu. Tapi yang “pada kepengen ” itu, jangan kan tau ilmunya, kepikiran kesana saja belum. Lha?

Lari ke soal nafkah. Ada kalimat yang terekat kuat di kepala saya ketika salah seorang kakak saudari seiman saya sedang menjalani proses ta’aruf-nya, yaitu pada bagian nafkah ini. Saat itu kami sedang ngobrol ringan berdua hingga dia berkata “Dek, bagian terpenting itu bukan pekerjaan tetap, tapi tetap bekerja.” Karena pada waktu itu calon suami (yang sekarang sudah menjadi suaminya) memang belum memiliki pekerjaan tetap. Hingga sekarang suaminya masih tetap berstatus tetap bekerja hehe… Namun berbekal ketakwaan dan ikhtiyar serta keyakinan bahwa rezeki-Nya Maha Luas, alhamdulillah baik-baik aja tuh, rezeki datang dari mana saja dan dari cara yang tak terduga. Malah sempet-sempetnya ngasih saya modal buat jualan pulsa :D Cobaan ya pasti ada, kan ini dunia, Bos. Kini mereka telah dikaruniai dua orang jundi. Kata Emak saya, kita kaya karena memberi.

Pekerjaan tetap memang tidak ada hubungan sama sekali dengan kesiapan memberi nafkah. Sudah terbukti di lapangan, Gan. Tak hanya di koran, bahkan kasus-kasus yang terjadi di depan saya sendiri telah memberi pelajaran. Ketebalan kocek suami ternyata belum tentu membawa kebahagiaan anak dan istri. Teman-teman pun pasti pernah menyaksikan sendiri, atau setidaknya baca di koran atau melihat di televisi, tak sedikit suami yang tidak memenuhi hak anak istrinya, dari kalangan pejabat sampai pengusaha. Jadi terbukti kan, seseorang yang memiliki penghasilan yang besar belum tentu memiliki kesiapan untuk memberi nafkah.

Jadi ngejomblo aja? Atau pacaran aja buat latihan? Kalau nyentil soal pacaran jadi teringat dengan status salah seorang teman saya di akun jejaring sosial miliknya, “Buanglah Pacar pada tempatnya.” Soalnya pacar (inai) memang sekali pakai langsung dibuang, disimpan bisa mengotori, hehe.. Memang benar kan?

Dewasa ini, dalam pandangan masyarakat, pacaran menjadi suatu hal wajar. Ya gimana ngga’, tiap hari televisi kita menyiarkan pria dan wanita yang bukan mahrom berduaan berpelukan, belum lagi sinetron dan ghibahtainment yang kisahnya tentang yang itu-itu juga. Tiap hari disodorin itu-itu terus ya lama-lama jadi biasa, dari tingkat anak TK sampai orang tua. Singkatnya, Maksiyat jadi biasa, yang bukan maksiyat malah jadi aneh. Itulah yang masuk ke rumah kita. Hingga menjadi sebuah sudut pandang, “seolah-olah” kalau nikah tanpa pacaran itu rasa-rasanya kurang afdhal.

“Cara untuk menjadi istri yang terbaik, hanyalah melalui suami. cara untuk menjadi suami yang terbaik, hanyalah melalui istri. Tidak bisa melalui pacaran.(Pak Didik Purwodarsono)

Salah seorang murrobiyah saya yang bekerja di Pengadilan Agama memberitahu, bahwa banyak kasus-kasus perceraian lahir dari masalah “salah menilai”, padahal sebelum menikah ada yang sudah berpacaran 3 tahun, bahkan 9 tahun. Sekedar info, seminggu bisa ±10 kasus. Begitulah ketika jalan nafsu yang diambil, keberkahan dan rezekinya berkurang, bahkan bisa aus. Jadi pacaran bukan jaminan.

Sekalipun memilih hidup menjomblo sampai mati ataupun streching dulu dengan pacaran, tanggung jawab akan tetap bertambah. Lha, mati aja  bawa “tanggung jawab”. Bedanya kalau sudah menikah gotongnya berdua. Tapi mati ya tetap gotong sendiri. Hidup ini tanggung jawab. Yang bermalas-malasan pun akan tetap punya tanggung jawab, mempertanggungjawabkan kemalasannya.

Kriteria. “Semakin banyak kriterianya, semakin cepat bermasalah?” Hah? Iya kah? Ada bagian yang paling saya garis bawahi, bagian sebagai “peringatan” untuk diri sendiri juga, mengingat semakin banyaknya jomblo di dunia ini ;

“Ketika seseorang telah menetapkan kriteria yang sangat tinggi, ia akan cenderung sangat peka terhadap hal-hal yang bergeser dari kriterinya.”

Di ibaratkan oleh Ustadz Fauzil Adzim seperti seorang Designer Grafis yang banyak berurusan dengan warna. Bila terdapat perbedaan sedikit saja antara desainnya dan hasil cetakannya, ia bisa merasa terganggu dan kecewa. Padahal bagi yang menikmati, hampir tidak ada perbedaan jika warna magenta dalam karya grafis itu komposisinya sebesar 55% ataukah 50%. Nah, begitulah jadinya kalau kriteria terlalu tinggi. Ketika berjumpa dengan kenyataan setelah menikah malah jadi kecewa, padahal orang lain yang menilai baik sekali. Dan itu bisa menjadi sumber konflik.

Kalau pesan salah satu guru saya, “tidak masalah kita mematok kriteria, asal kita juga senantiasa meng-upgrade diri.” Pengen yang seperti ‘Aisyah tapi nongkrong di diskotik. Ingin yang seperti ‘Ali, bukannya rajin ngaji, malah rajin karaoke. Jangan salahkan kalau tak dapat yang sesuai keinginan. Lah, keinginan dengan usaha Jaka Sembung, alias Ga’ nyambung.

Kesiapan ruhiyah. Ini juga sering kelupaan untuk digali dan diasah. Ngga’ kebayang dulu kalau saya tetap ngebet nikah cuma main modal asal sruduk. Dalam buku ini kesiapan ruhiyah merujuk kepada kondisi seseorang yang mudah menerima kebenaran dikarenakan hatinya telah tersentuh oleh kesadaran agama. Karena hati yang telah terbuka akan risalah-Nya memiliki sikap yang terkendali oleh ketakwaannya. Jika ia menyukai istri atau suaminya, kecintaannya itu melahirkan sikap memuliakan. Jika ia sedang marah atau kesal, kemarahannya tidak membuat ia menzalimi istri atau suaminya. Karena itu Rasulullah shallallahu’alayhi wasallam berpesan :

“Wanita itu dinikahi karena empat perkara, yaitu karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah olehmu wanita yang punya agama, engkau akan beruntung.” (hr. al-Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 1466)

Dan perlu digaris bawahi setebal-tebalnya, perkara kesiapan ruhiyah ini sama sekali tidak berkaitan dengan umur.

Saya punya cerita singkat mengenai perihal menikah yang sedang kita bahas ini. Semoga bisa diambil pelajaran. Kisah salah seorang alumni perguruan tinggi negeri di Batam. Besar dalam keluarga yang “beda jalur” dengannya. Sampailah waktunya ketika dia mengajukan seorang laki-laki untuk menjadi pendamping hidupnya. Awalnya tentu saja ditolak. Karena menurut keluarganya terlalu cepat. Ya sudahlah, begitu baginya. Berbekal doa, ikhtiyar dan tawakkal. Itikad baik tak akan terlewat dari pengawasan-Nya.

Saat duduk berdiskusi bertiga dengan kedua orangtuanya, entah bagaimana ceritanya sang Ayah berkata pada Ibunya, “ngapain lama-lama, lagian kan pacaran dalam Islam itu haram.” Si akhwat tentu saja terkaget, begitu juga sang Ibunda. Bukannya apa-apa, dua hari yang lalu baru saja sang Ayah mengatakan, “pacaran ajalah dulu, setahun atau lebih.” Dan dalam tempo dua hari kata-kata itu berputar balik. Satu halangan teratasi. Allah tak pernah membiarkan hamba-Nya sendiri. Dia Sang Penggenggam Hati.

Berikutnya masalah dana. Cekak! Belum lagi tuntutan keluarga yang ingin memenuhi adat. Lagi! Entah bagaimana ceritanya rezeki itu datang dari arah yang tak pernah diduga-duga. Ada saja dana yang mengalir di tengah ikhtiyar dan keyakinannya, bahwa Allah senantiasa Menepati Janji-Nya. Ingat teman, dalam ikhtiyar dan keyakinan, bukan dalam bermalasan, seolah rezeki turun dari langit blas langsung jatuh ke pangkuan.

Selain itu ada hal lain yang bisa kita petik dari goresan singkat cerita beliau ini. Nabung dan mengkondisikan orang tua. Terkadang mentang-mentang merasa masang target nikahnya masih lama, akhirnya urusan nabung ntar-ntar aja deh. Padahal kita tidak tau kapan jodoh itu akan datang, bisa-bisa sebulan atau dua bulan lagi. Kemudian juga bagaimana kita mengkondisikan orangtua, maksudnya adalah bagaimana kita memberi pemahaman kepada orangtua mengenai konsep menikah dalam agama Islam. Bukan cuma kita saja yang paham. Minimal kita sudah men-sharing apa yang kita pahami sedari dini kepada orang tua kita. Kita doakan saja semoga proses mereka berkah dan terangkum dalam ikatan yang suci dan barokah. Aamiin ya Allah…

“Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong, yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka dan seorang yg menikah karena ingin memelihara kehormatannya.” (HR.Ahmad 2:251, Nasa’i, Tirmidzi, Ibnu Majah Hadits no. 2518, dan Hakim 2:160).

Kisah ini untuk diikutsertakan dalam Lomba Kisah Menggugah Pro-U Media 2010 di http://proumedia.blogspot.com/2010/10/lomba-kisah-pendek-menggugah-pro-u.html

3 thoughts on “Sudah Saatnya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s