Ngeteh

Jangan Nodai Cinta

Karena memang sudah suci mulanya. Eh, by the way akhirnya saya bicara cinta juga Sudah lama sekali. Jangan-jangan bener kata teman saya, “kamu tuh kaya’nya udah mati rasa, Ra.”

Hehe… well it’s not as-horror-as like what you’ve read actually. Hanya mengenang apa yang tak tergantikan. Sebagai pelajaran bagi saya yang acap kali menodai Cinta itu.

Desember 2003 itu delapan tahun yang lalu. Delapan tahun sampai detik ini yang berisi perubahan-perubahan diri. Ah teman, delapan tahun itu tak seindah tentang “cerita-cerita perubahan” yang sering kau baca di kolom-kolom majalah. Delapan tahun ku isi dengan kenaikan kualitas, tak jarang pula aku menurunkannya sedemikian rendah, mengkhianati janji yang tertuang, menodai Cinta yang diberi, dusta-dusta yang disusupi, masih terseok-seok hingga detik ini, bahkan aku belum bisa menghargai.

Namun masa lalu tetap masa lalu kan ya? Kau menggerutu pun tak kan bisa memutar balikkannya kembali. Atau kau pilih untuk tenggelam didalamnya pun jelas tak akan merubah apa-apa, bisa jadi kau hanya memperburuk semua.

Semua orang bisa belajar dari masa lalu. Tapi tak seorangpun bisa merubahnya. Kita hanya bisa merubah di ri kita yang sekarang. Namun cerita lalu tetap tak akan berubah. Kau bisa belajar darinya, atau kau bisa memilih karam bersamanya.

Every step that we made has its risk. Even a quietness hat risk. So start it, or leave it.

Namun kupikir-pikir, jika ada yang ternoda, maka itu hati. Cinta tetap sesuatu yang suci. Ketika hati ternoda, cinta te rkikis. Nafsu menggelora, kemudian ia terkikis lagi. Dan lagi ternoda, semakin ia terkikis. Begitu bukan?

Ah jadi panjang deh. Padahal sih aslinya cuma judul buku doang Hehe.. Kalau ada lomba Intermezzo kek nya saya bisa nyabet juara paporit (_ _ !)

Sebenarnya “Jangan Nodai Cinta” bu ku pertama saya di awal-awal perubahan. Di bawa ke rumah secara halal pada Desember 2003. Titik mula perjuangan itu 

Setahun yang lewat hilang lesap entah kemana. Buku sih banyak. Tapi buku ini buku yang “memorable” banget buat saya. Sampai akhirnya harus mesen ke Jogja (di Batam habis, ga tau lagi mau cari kemana, soalnya buku lama juga), dan akhirnya sampai “kembali” dengan selamat ke Batam Januari 2011.

Udah. Saya cuma mau cerita itu aja… hehe…..

“Karena aku tak sadar pada yang aku punya sampai itu lenyap.” ~Shrek

December 2003

http://rabytah.multiply.com/journal/item/109/Jangan_Nodai_Cinta

5 thoughts on “Jangan Nodai Cinta

  1. heheh,…hm, ,lulu masih puny abuku itu kak.
    emang tuh buku termasuk salah satu buku yang pertama kali menemani awal2 perubahan.
    Semangat kak ira^__^

    deu..jadi pengen baca “Jangan nodai cinta” lagi^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s