Ngeteh

“Jangan Merasa Paling Benar!”

Pernah dikatain begini ga sih? Kalau saya sih belum pernah, tapi ga tau deh kalo ada yang ngomong dibelakang hehe..

Seringnya kalo lagi diskusi atau sekedar ngobrol ringan memang ada acap kali saya dengar kalimat ini, “yang penting kita jangan merasa paling benar.” Paling sering dalam diskusi yang berkaitan dengan agama. Juga sering terlontar (paling banyak malah) di forum JIL’ers (Jaringan ILegal). Kalo ini mah udah ketebak arah siapa yang mereka tuduh “merasa paling benar” >> para peng-counter pemikiran mereka.

Tapi namanya juga JIL, kalo mereka nyerang pendapat orang lain dianggap sebagai pembelaan, kalau pendapat mereka ditanggapi (sekalipun dengan dalil yang jelas) mereka anggap “si pemberi pendapat” sebagai “orang-yang-sok-bener”. Aneh ya hehe… udah ga usah dipikirin. Soalnya SANGAT JARANG yang berani pake identitas asli. Beraninya ngomong kotor pake identitas abal-abal.

Afghan : jadi sebenernya yang pengen kamu bahas apa, Ra?

Hehe… lagi-lagi intermezo yang kepanjangan *hobby*. Jadi alkisah kadang merasa “agak aneh” dengan kalimat ini, atau bisa jadi karena saya yang ga’ nangkep-nangkep *cuma ga’ ngaku* Terutama dalam perihal agama. Otomatis kan ya, kalau kita memeluk suatu agama, jelas karena ajaran agama itu kita anggap paling benar. Kalau kita bilang semua agama benar, kenapa ga’ semuanya aja dipeluk? Ya kan? Ya ga sih? (-__-”)

Saya rasa poin yang terpenting adalah menghormati pihak lain saat menyampaikan pendapat, dengan mendengarkan, pakai etika kita sebagai Muslim. Dan menghormati itu jelas pengertiannya bukan menggadaikan agama sendiri.

Sama seperti toleransi. Toleransi itu maknanya bukan kita harus menjual agama sendiri cuma gara-gara ingin disebut bapak/ibu toleransi Indonesia, atau karena ingin mendapat Nobel Toleransi dari Obama, atau yang lebih nge-trend saat ini, karena ingin memberi contoh bagaimana cara menjunjung toleransi di negara ini. Salah contoh woy! :p

Semenjak duamenjak ini ada banyak pergeseran makna yang terjadi. Kata damai pun kini dialih-artikan “merelakan agama dihina”. Sejak kapan coba damai jadi berarti “merelakan Rasulullah dicerca, agama dihina, al-Quran diinjak”.

Sekedar berbagi isi otak. Sebagai wanita Sumatra yang menyukai cabe dengan ini saya memutuskan bahwa tulisan ini selesai. Kalau ada yang mau kasih masukan, sile… Just tell it as like a Muslim.

*ngeteh di Ujung Pulau

http://rabytah.multiply.com/journal/item/110

2 thoughts on ““Jangan Merasa Paling Benar!”

    1. masa’ sih dek
      ga lagi kesel kok -,-”
      coba baca yang d multiply aja, mgkn komen2 yg lain bisa memperjelas 😀 *mudah2an sih

      keep write ya sayang!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s