Ngeteh

Catatan Sore : Romantisme yang Terkikis (?)

Akhirnya nulis lagi. Walau dengan judul yang agak klimis. Pengen cerita-cerita singkat, mengakumulasikan obrolan ringan (yang menohok saya akhir-akhir ini), hasil penglihatan dan pendengaran dari beberapa kejadian hari-hari sekarang juga yang telah lewat. Setelah sibuk dengan beberapa kesibukan belakangan ini. Sibuk nyuci, sibuk nyetrika, sibuk liat-liat langit, sibuk ngukur-ngukur suhu, sibuk ngurusin orang hehe… *ngeles* mumpung lagi sempet.

Ceritanya dimulai dari sekarang, saya lagi baca buku Tere-Liye yang terbaru, Eliana (on progress, udah masuk halaman 290an), yang saya titip sama luthi (http://revoluthion.multiply.com) saat Islamic Book Fair di Jakarta. Dikarenakan saya tidak bisa bertandang ke Jakarta waktu itu, padahal sudah 2 tahun setiap maret dipastikan saya sedang tidak berada di Tanah Sumatra.

Tahun ini beda, oleh karena itu saya titip luthi, kalo saya tidak titip luthi, tentu saja saya tidak membacanya sekarang, dan jelas saya juga tidak akan menulis hal keramat ini disini sekarang. Tidak sembarang orang yang saya bagi-bagi perkara rumit ini, percayalah. Ah, panjang. Tapi saya merasa penting saja menceritakannya. Kebiasaan memikat (red: berlete-lete) ini sulit sekali saya hilangkan. Saya cuma berpikir, bahwa berlete-lete adalah kebiasaan bujang melayu yang harus dilestarikan  

Gara-gara buku ini saya jadi terngiang tentang prilaku “malu-malu-manja-agak-norak-dikit” kelakuan orang tua saya dulu. Jadi ceritanya waktu itu saat makan malam di meja makan, saya dan adek laki-laki saya lagi cerita2 sama Ayah Mamak. Pokoknya lah, ujung-ujung cerita kami nanya perihal yang tentu sangat sensitif bagi perempuan seperti Mamak (saya kalau baca cerita tentang Mamak di Eliana, Burlian, Pukat, pasti selalu inget sama Mamak yang melahirkan saya, mirip 

Perkara sensitif nan bermartabat itu adalah perkara “siapa yang duluan naksir” ayah atau mamak. Duhai kawan, ini perkara menyangkut harga diri bagi Mamak *lebay*. Kalau ini sih pasti udah ditebak siapa yang paling ber“mulut besar” haha… >> AYAH!

Ayah : dulu Mamak yang naksir Ayah, kalau ga nikah sama Ayah ga mungkin kita kaya’ gini sekarang *heroik, gaya pria paling tampan sedunia*dan lain-lain… (=.=”)

Ira : *monyongin bibir*

Imam : *lupa ngomong apaan*

Mamak ngamuk2 malu manja (hehe…) sambil nepok-nepok pundak Ayah. Yang ditepok sih kesenengan *alah. Yang jelas satu yang saya tangkep, romantisme masa lalu itu masih ada😀

Ekspresi malu-malu saat seperti pertama kali bertemu, cinta tanpa umbaran kata yang ternyata lebih mengakar, ketika rasa malu masih ada, adab masih terjaga. Jaman sekarang rasanya sudah jarang ditemukan hal seperti itu (bukan ga ada), dan rasanya rindu kalau dengar atau melihat cerita-cerita seperti itu. Kadang ikut malu-malu sendiri dengernya

Banyak pasangan (mayoritas yang belum halal) mengumbar kata bahkan foto mesra di publik. Sampe orang lain yang liat pun bosen, jadi basi *kata kawan TeKa*. Status pun sudah berubah. Mekar sebelum waktunya. Aus sebelum masanya. Kalau kata guru ngaji saya yang sekarang, “jangan di umbar Nak, nanti aus keberkahannya.”

Sudah jarang ditemukan gadis-gadis yang malu-malu berjalan di depan gang sampai terperosok di parit (di jaman Mamak saya masih ada, pulang dari sungai ketemu laki biasanya ngacir, hehe  -.-“) kalau saya malah melotot pake parang *ketemu rampok*. Ntar jawabannya, “itu kan jaman Mamak.” Padahal adab tak mengenal masa. Sudah jarang juga yang tertunduk-tunduk malu kalau ketemu jenis bapak-bapak. Lebih ramai yang bernarsis ria.

Suami-suami jaman-jamannya Opung sama Ayah dulu kalau pulang telat (abis ngejar babi hutan yang lagi jogging di ladang jagung) pulang-pulang langsung mengetuk lembut pintu kamar Ibunda nan lagi sesenggukan.

Ayah : “Duhai rembulan pujaan hati abangda seorang, kiranya bulan tak lagi bersinar malam-malam nan akan datang, maka tiada risau dihati abang, karena aku punya engkau seorang, engkaulah bulan ku dinda.” (ngarang)

Mamak : “abang jahaaaaaat! (ngarang juga)

Kalo suami jaman sekarang, pulang telat, langsung sms istri, “Mah, Papa pulang telat.” Titik. Sampai rumah, “Papah capek nih, ntar aja ya.”

Inget juga jaman SD dulu. Kalau sebelum libur lebaran. Hampir sepanjang malam saya buat kartu2 lebaran dan menulisnya dengan kata2 indah untuk teman2 SD saya, kemudian pagi-pagi sekali saya taro di meja mereka masing-masing. Begitu juga dengan teman-teman saya. Kalau sekarang sih tinggal ketik satu sms aja terus forward ke semua nomer. Lebih simple. Cuma beda rasa, something have lost.

Era sms dan facebook-an sekarang romantisme tinggal kenangan *tsah.. cuihpret. Maksudnya ga seindah dulu. Dulu cincin imitasi pemberian Ayah adalah hal yang lebih mahal dan berharga bagi Ibunda daripada Ferrari Malinda Dee. Sekarang muda-mudi yang belum halal kadonya boneka big mashimaro yang dibeli dari duit bapak mamaknya yang saban hari membanting tulang. Dulu surat cinta Ayah 40 tahun lalu yang berisi bait-bait sajak sakti untuk menaklukkan hati Bunda masih tersimpan rapi di kotak perhiasan lama di lemari paling bawah. Sekarang sms tinggal hapus, beres. Pantun-pantun Ayah tinggal kenangan. Senyum malu-malu Ibunda tinggal cerita. Hal-hal sederhana namun indah tinggal “alkisah”.

Itu saja cerita-cerita “singkat” saya hehe.. Mudah-mudahan saja malu tak jadi legenda.

“Mahkota wanita bukan rambut, tapi Malu.” –Bang Dul

“Apalagi yang dipegang dari seorang laki-laki kalau bukan kata-katanya.” –lupa kata siapa

rabytah.multiply.com/journal/item/115/Catatan_Sore_Romantisme_yang_Terkikis_

2 thoughts on “Catatan Sore : Romantisme yang Terkikis (?)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s