Live Love Life

Before You Marry ?

Sekedar berbagi sedikit pengalaman, sharing persiapan pra-nikah yang lalu, menit-menit setelah saya mengatakan “I do.” Menit-menit yang akan selalu saya kenang. Rasanya belum hilang-hilang hehe… rasa “jantung pengen copot”, gelisah, seneng, bingung, pengen salto, pengen diem, pengen tereak juga (argh! Aku mau nikah wooy!!) dan  rasa lain-lainnya yang nyampur jadi satu baskom.  

We started on the first week of February 2011 One of the memorable month of our life. Bulan February  juga beliau maju ke rumah orangtua, 18 Maret 2011 lamaran, dan…  tadaaaa…. hari itu juga, tanggal 21 Mei 2011 ditentukan, as our anniversary then.

Pertengahan cerita, kami memiliki 1,5 bulan untuk mempersiapkan semuanya. Singkat? Ga juga =) let’s see. Tapi persiapan saya sendiri sebenarnya bukan dari bulan Maret, tapi sejak ta’aruf kami dimulai (untuk beberapa poin bahkan sudah saya persiapkan sejak kuliah. loh?), how?

1. Ruhiyah. Melaksanakan yang fardhu tepat waktu.  Kalau yang fardhu sudah terjaga mulai deh nambah yang sunnah, misalnya dhuha, qiyamul lail, puasa sunnah. Jangan lupa tilawah, ngaji. insyaAllah menenangkan hati =) yang ini dijamin.

2. Mengkondisikan orang rumah. Mean? Orang tua tidak selalu searah dengan anaknya. Orang tua saya juga bukan yang sepakat-sepakat amat dengan proses ta’aruf, tapi juga ga menolak-nolak amat. Pengkondisian saya lakukan sejak kuliah, agar mereka paham seperti apa pernikahan yang saya inginkan nanti, dan juga tidak kaget. Itu juga tidak langsung diterima, jadi bertahap dan sabar ya teman. Bahkan hingga February lalu saat saya ajukan proposal nikah suami, orang tua masih tetap aja kaget. So, pengkondisian bukan saat kita mau menikah disitu kita mengkondisikannya, tapi jauh-jauh sebelumnya. Waktu yang dipilihpun adalah waktu yang kontributif untuk menunjang misi kita (hehe…). Dulu, biasanya waktu yang saya pilih adalah saat Ibunda saya minta dipijetin, dan itu biasanya tiap abis isya. Nah, waktu itu saya mengambil kesempatan untuk menjabarkan visi misi menikah saya. Dari konsep walimah sampai mahar saya diskusiin sama emak saya Kadang sengaja ng-letakin print-out di meja makan kalo saya abis dari daurah atau seminar tentang pra-nikah.

3. Kesehatan. Sejak 2011, khususon dibidang “konsumsi makanan”, sudah memasuki ke kasta yang lebih tinggi  alias lebih sehat. Allah memang Maha Tau. Saya mulai mengurang gorengan, mulai rajin makan sayur dan buah-buahan, olahraga, dan rajin konsumsi susu. Bahkan sejak dinyatakan dalam “proses ta’aruf” saya berpindah merek susu, Prenagen Esensis (deu.. ). Usaha mesti, Allah Sang Penentu Hasil

4. Baca Buku. Termasuk persiapan ruhiyah juga. Untuk meningkatkan pemahaman, terutama buku-buku pra-nikah, munakahat, reproduksi, manajemen keuangan keluarga, dan parenting. Penting! Kalo bagian ini dari sejak kuliah udah saya lakukan, ikut daurah pra-nikah, di liqo’an juga kalau ada yang mau nikah pasti pembahasan pra-nikah langsung terbentang luas. Itu aja ga cukup-cukup sampai sekarang. Karena pengalaman lah yang akan mendidik kita sebenar-benarnya, namun bekal bagian penting juga kan. jadi inget kata ustadz Didik :

“Cara untuk belajar menjadi istri yang terbaik hanyalah melalui suami. Cara untuk menjadi suami terbaik hanyalah melalui istri. Tidak bisa melalui pacaran. Pacaran hanya mengajarkan caranya menjadi pacar terbaik, bukan suami atau istri terbaik.”

5. Sharing dengan yang pengalaman. Dalam arti lain, banyak-banyak mendengar. Saya jadi rajin nanya-nanya sama temen-temen yang sudah menikah terlebih dahulu. Penting banget =) makanya ada kalimat, “belajar dari pengalaman.” dari persiapan pra-nikah sampai ke hubungan yang lebih spesifik lagi. Sekedar info, kamu bakal menemukan hal-hal mengejutkan setelah nikah nanti.

6. Konsumer Visioner. Apa-apa yang saya konsumsi pasti saya pikir manfaat ke depannya. Salah satu contohnya, konsumsi sandang. Beli baju pasti yang saya pikir, gimana baju ini ntar muat juga kalau saya hamil hehe… lumayan kan memangkas anggaran keluarga, bisa dialokasikan ke hal lainnya. Jadi ga perlu riweuh pas hamil baju pada ga muat. Based on pengalaman ibu-ibu.

7. Praktek masak. Kalo biasanya cuma cari resep-resep aja, saatnya praktek.

Intinya persiapan ruhiyah dan jasmaniyah harus seimbang (tawazun). Sedangkan persiapan material  untuk acara pernikahan, walau waktu singkat tapi ga ribet-ribet banget, namun tetap kepikiran juga, secara kami dan “lokasi acara kami” berada di beda daratan.

Yang terpenting sudah tersusun list apa-apa saja yang akan dipakai dan kita sudah tau link-link yang berkaitan dengan acara nikah kita nanti. Kalau perlu diketik, terus diconteng item-item yang sudah dan item-item yang belum. Dari souvenir, undangan, daftar undangan, gedung, mak andam (EO), baju yang dipakai, panitia, dan lain sebagainya. Kalau sudah tau list plus link nya, satu hari juga bisa siap, selebihnya tinggal mem-fix-kan sana sininya.

Oya, saat ta’aruf juga saya dan suami saling bertukar konsep. Konsep rumah tangga saya seperti apa, dan konsep rumah tangga beliau seperti apa. Seperti apa pendidikan anak, hingga bertukar visi misi kami dalam berlayar nanti (nyontek resep salah satu senior ikhwan). Sampai seperti apa saya dan dia, kekurangan, hingga dimana tinggal nanti juga didiskusikan.

Pasca nikah, waktunya pacaran  hehe ya ga lah, ga itu aja. Momen-momen proses beradaptasi satu sama lain hingga sekarang bukannya tanpa cela. Justru dari situ kita banyak belajar, mendidik kita tambah dewasa dan uniknya malah menambah cinta,  Maha Suci Allah =) So many lessons. Jangan khawatir dengan kejutan-kejutan itu. Pengenalan itu  butuh proses, dan itu bukan proses yang sebentar.

Janet Askham dalam bukunya yang berjudul Identity and Stability in Marriage (Cambridge Universty Press) mengemukakan bahwa lamanya hubungan pra-nikah serta tingkat intensitas hubungan pra-nikah, tidak memberi sumbangan positif setelah bersepakat untuk menikah.

Saat nikah nanti, baru deh kita merasakan beda sekali saat sebelum nikah. Akan banyak surprise yang kita temukan. Apalagi yang sudah merasa mengenal pasangannya, siap-siap kaget pada apa yang akan terbuka, ternyata begini, ternyata begitu. Karena proses pengenalan sebenar-benarnya terjadi memang pada saat menikah  jadi jangan siap buat yang indah-indah aja. Kita hidup nih =) but don’t worry, problems make us stronger if we face them bravely and in the right corridor.

Karena itu Hasan bin ‘Ali berpesan untuk menikah dengan lelaki/wanita yang bertakwa. Karena ketika dia menyukai, maka ia pasti akan memuliakan, ketika dia marah, ia tidak akan menzhalimi. Artinya, jika seseorang memiliki kebersihan ruhiyah dengan ketakwaan kepada-Nya, sikapnya akan tetap terkendali oleh ketakwaannya. (Saatnya Untuk Menikah, Muhammad Fauzil Adhim).  Selama nyawa belum sampai di tenggorokan kita selalu memiliki hak dan kesempatan untuk berubah. Senantiasa meng-upgrade kualitas diri, bertahap yang penting continue.

Yang berarti sekarang adalah apa yang kamu pilih sekarang. –Po, Kung Fu Panda II

Finally, a little share, hope can build something for kindness  Dan dua bulan kami bersama. Semoga menjadi keluarga yang produktif dan berkontribusi untuk agama dan ummat ini. Hope same goes with you sisters brothers Moga lancar ya persiapannya, sila sharing-sharing inpoh.

VERY-RECOMMENDED BOOKS! : (ni kalo aku bilang very-recommended berarti buku nya bener2 pwoll)

1. 10 Bersaudara Bintang Al-Qur’an (Izzatul Jannah – Irfan Hidayatullah, Arkan Leema)

Konsep-konsep rumah tangga hingga pendidikan anak dijabarkan ringan tapi mengena dibuku ini. Firstly recommended!🙂

2. Saatnya Untuk Menikah (Mohammad Fauzil Adhim, Pro-U Media)

Yang ini buku jaman kuliah. Dari bekal ilmu, kesiapan psikis, sampai kesiapan ruhiyah dibahas disini.

3. Barakallahulaka, Bahagianya Merayakan Cinta (Salim A. Fillah, Pro-U Media)

Di antara buku yang lain, ini buku yang paling tebel. Yang lain lumayan tipis. Dari proses ta’aruf, tata cara pelaksanaan walimah, hingga malam pertama ada disini, tenang aja, bahasanya ringan dan mudah dipahami.

4. Mendidik Anak dengan Al-Quran Sejak Janin (Bunda Fathi, Pustaka Oasis)

Hardly recommended!

5. Panduan Terlengkap Kehamilan Bagi Muslimah (Nurul Chomaria, S. Psi, Ziyad)

Yang ini sama pentingnya, dari persiapan hamil, tabel menu, sampai senam nifas juga ada. Tapi saya belinya setelah menikah kalo yang satu ini. Rekomendasi dari seorang teman.

6. Aisyah dan Maisyah (Ahmad Ghozali, Gema Insani)

keren nih🙂 ada penganggaran untuk acara walimah nya, selain persiapan pra-nikah juga.

7. Nikah? Emang Gue Pikirin! (Shofwan al-Banna, Pro-U Media)

Bahasa Kak Shofwan yang ringan dan lincah bikin buku ini gampang dicerna, walau topiknya berat, Nikah. Tipis, ga tebel kok. Tapi dalem.

Banyak lagi buku-buku lain atau artikel-artikel yang bisa dibaca. Ini baru segelintir. Tapi mudah-mudahan bermanfaat ya

*for unforgetable moment, 21 Mei 2011, when the holly words was said, Mitsaqan ghaliizha are created…

Ujung Perbatasan, 1 Ramadhan 1433 H (1 Agustus 2011)

http://rabytah.multiply.com/journal/item/120/Before_You_Marry_

6 thoughts on “Before You Marry ?

  1. saya baru punya buku no. 5😦
    tapi yg buku selain itu ada :)) jazakallahu khairan kak sharingnya.. bermanfaat banget ini insyaAllah:mrgreen:

    _rohma_

  2. good advice:-)
    sabar ya kehilangan jundi pertama, smoga bisa diambil hikmahnya….kadang kalo dah ‘telat’ katanya pamali disebar2 dulu…ato terlalu happy pun jangan….selalu ada hikmah🙂

  3. Pingback: Before You Marry ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s