Uncategorized

Tanyakan pada Kambing yang Bersorban (a-Gado-Gado-Tale-Story)

Haji Romli sedang memberi makan kambing-kambingnya. Dua bulan ini kandang kambingnya telah kedatangan penduduk baru. Kiko dan Moru. Siapakah mereka? Sebenarnya itu adalah nama anak-anak kambing yang baru lahir. Pak Haji punya kebiasaan memberi nama kambing-kambing kepunyaannya dari semenjak ia kecil. Kebiasaan yang pernah membuat dirinya di ikat di pohon kates oleh Abahnya. Kenapa demikian? Rupa-rupanya dia pernah menangis-nangis tak henti karena kambing pertama pemberian dari Abahnya, si Mochi (begitulah kambing naas tersebut diberi nama) meninggal ditabrak gerobrak motor Pak Cik Azzam. Pasal tu lah Abahnya Pak Haji kalap.

Abahnya Pak Haji : Hai Romli! Semua di dunie ni milik Allah, akan kembali pade Allah. Gare-gare kambing ni mampos engkau meratap-ratap macam orang gile. Macam mane pulak kalau Mak kau yang mati he??

Pak Haji dilepas setelah tangisnya reda. Pohon kates jadi saksi sejarah.

Sekianlah cerita pasal kecintaan Pak Haji dengan kambing.

Selagi memberikan makan Mino, Nemo, dan Kimi (kambing-kambingnya yang lain), Bujang datang dengan menenteng rantang berisi masakan Mak-nya yang dibagi-bagikan pada tetangga. Masyarakat Melayu Kampong Sejuk-Berseri memang memiliki kebersamaan yang kuat. Jika kau masak sepuluh, empat untuk di rumah, maka enam untuk tetangga sekitar.

Bujang                    : Assalamu’alaikum Pak Haji

Haji Romli              : Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Bujang rupenye. Ade ape Jang?

Bujang                    : Ini Pak Cik. Saye nak kasikan pemberian Mak. Nasi pulut same rendang. Tadi Mak masak banyak.

Haji Romli              : Alhamdulillah. Bilang same Mak engkau makasi ye Bujang.

Bujang                    : Insya Allah Pak Cik. Nanti saye bilangkan pade Mak.

Bujang belum beranjak. Pak Haji yang tadinya sudah menoleh ke arah kambing-kambing kesayangannya menoleh lagi ke arah Bujang yang masih belum beranjak.

Karena merasa lagi diperhatikan si Bujang,

Haji Romli              : Ngape engkau Bujang?

Bujang                    : Aku ade nak tanya sikit lah Pak Cik?

Haji Romli              : Pasal apekah tu Bujang?

Bujang                    : Pak Cik, Ngapekah kite mesti sujud?

Haji Romli              : Sujud tu bukti ketaatan kite pade ape yang kite sujudi, Allah.

Bujang                    : Tapi posisi pantat kite tu kan lebih tinggi daripade posisi kepale kite, Pak Cik.

Haji Romli              : *bingung menatap Bujang* Manelah Aku tau, Jang.

Bujang                    : Macam manelah Pak Cik bise tak tau? *tak puas*

Haji Romli              : Aih, aneh yang engkau tanye tu.

Bujang                    : Iyelah. Pak Cik kan Haji, bersorban, mestilah tau.

Haji Romli kesal. Dilepasnya sorban dan baju koko yang sedang dikenanya. Kemudian dipasangkannya keduanya di badan Nemo kambingnya.

Bujang                    : Ape yang Pak Cik perbuat ni? *bingung ia melihat kelakuan Pak Haji Romli*

Haji Romli              : Nah Bujang. Sekarang kalau kau nak tanye, tanyekanlah pada Haji Nemo ni. *kesal*

Di depan Bujang berdiri gagah seekor kambing dengan sorban dan baju koko. Bujang pias.

Bujang                    : Bukan cam tu lah maksud saye Pak Cik *bersungut*

Haji Romli yang tadinya keki mulai reda melihat sungutan si Bujang yang manyun-manyun sikit macam hantu belau.

Haji Romli              : Engkau dengarlahkan ini Bujang. Sujud itu adelah bukti ketaatan kite pada Allah, tak ade sujud selain pade Allah yang menciptakan Mak dan Bapak engkau, Bapak dan Mak aku. Pasal sujud tu macam mane, engkau ingatlah pesan Nabi kite yang Mulia tu, “Sholatlah sebagaimana engkau melihatku sholat.” Kalaulah bentuk sujud modelnye macam tu, inilah yang mesti engkau camkan. Di dunia ni ade hal-hal yang tak bise pakai nalar tapi memakai keimanan. Jangan sampai engkau gile gare-gare hal macam tadi tu. Engkau ingat-ingatlah ape kata aku ni ye, Bujang.

Bujang manggut-manggut. Entah mengerti entah tidak, pokoknya manggut. Ia takut nanti kalaulah tak manggut bisa-bisa bajunya pula yang dipakaikan ke kambing Pak Cik Romli.

Pak Cik juga manggut-manggut. Haji Nemo juga manggut-manggut.  “Mbeeekkkkkkkkkkkkkk…………………….” begitulah ia berfatwa.

4 thoughts on “Tanyakan pada Kambing yang Bersorban (a-Gado-Gado-Tale-Story)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s