Uncategorized

Setelah Kasur, Kipas Angin, Rice Cooker, dan seterusnya…

ImageWaktu jaman-jaman ngekos dulu, item-item awal yang saya lengkapi di kamar kos adalah kipas angin, kasur & friends, dan lemari kain (yang harganya Rp 70.000’an itu). Barang-barang ini berasa berhukum wajib. Seperti ada sesuatu yang hilang kalau kamar tanpa kipas angin.

Ternyata hal ini tidak berubah setelah menikah. Yang pertama dibeli ternyata tetap kipas angin juga, kali ini yang ada tiangnya. Selebihnya diperoleh dari kado-kado saat walimah, dan selebihnya lagi menyusul di bulan-bulan berikutnya, seperti rak buku, tikar untuk tamu, dan lemari baju tambahan.

Rasanya mungkin kita sepakat ya, barang-barang yang saya sebutkan tadi “setidaknya ada lah” di rumah (kontrakan) baru kita.

Dan akhir-akhir ini kami (saya dan suami) baru menyadari, ternyata ada lagi “barang” yang seharusnya (idealnya) ada di rumah setiap Muslim, KITAB. Bermula dari sebulanan ini, suami lagi rajin-rajinnya baca Zaadul Ma’ad. Setiap kali suami menginfokan sesuatu dari kitab tersebut, komen saya lebih sering, “ha? Iya ya?”. Ternyata masih banyak  hal-hal yang harus dipelajari. Rasa-rasanya lagi saya agak menyesal kenapa waktu nikah dulu saya minta anteran (hantaran)-nya cuma Zaadul Ma’ad aja, tau penting begini kan minta Fathul Baari juga, Riyadush Sholihin, Tafsir dll B-)

Urgensi keberadaan mereka (kitab-kitab ini) makin kami sadari saat banyak pertanyaan di halaqah masing-masing, ga jarang malah jadi bongkar-bongkar isi kitab dengan rekan lainnya, saat mentoring adik-adik, saat memang di benak ada pertanyaan, juga saat teman-teman bertanya tentang beberapa hal, atau saat diskusi berdua saja.

Di saat-saat seperti itu, Kitab-kitab ini, kitab hadits, tafsir, serta bentuk warisan ulama lainnya menunjukkan betapa besar manfaat mereka. Sangat terasa sekali bergunanya. Beda rasanya baca e-book dan baca kitab. Beda juga rasanya, saat ada “question mark” di kepala kita, terus nyari jawaban di Google dan seketika “cring” jawaban muncul, dengan saat kita mencari jawaban langsung di Kitab-kitab tersebut. Ada semacam rasa yang  terbayar. Halah susah bahasanya. Dan entah kenapa malah lebih mudah diingat.

Dari ini, kita sependapat, keberadaan kitab sangat penting di dalam Rumah seorang Muslim. Dan memang sudah seharusnya ada. Apalagi yang memiliki kemudahan akses distribusi di daerahnya, masih memiliki banyak Asatidz yang menjadi tempat bertanya, dan memiliki kelebihan keuangan. Kan keterlaluan sanggup beli novel sampai ratusan ribu tapi ngaku tidak sanggup beli kitab-kitab hadits atau Tafsir al-Qur’an.

Untuk kemudahan, mungkin pembelian dijarak dan dibagi, kemudian dipilah mana yang lebih dahulu diadakan. Misalnya bulan yang ini Tafsir al-Quran. Dua bulan kemudian pengadaan lainnya dan seterusnya.

Abdullah Muhammad Abdul Mu’thi menuliskan dalam bukunya ‘Be a Genius Teacher’ bahwa seseorang tidak akan dikatakan pecinta ilmu sebelum mencintai bukunya daripada bajunya. Adalah Syaikh Ahmad Al Hijjaz, karena tidak punya uang sampai melepas sebagian pakaiannya lalu ia jual untuk membeli buku yang dilihatnya. Itu karena ia adalah penggila buku. Syaikh Al Hafizh Ibnu Daqiqil Ied yang pernah menjabat Hakim Agung abad ketujuh Hijriyah, membeli kitab Asy Syarhul Kabir berjumlah 12 jilid seharga 1000 dirham padahal ia tidak kaya bahkan pernah berhutang. (source : http://izzatunnajwa.blogspot.com)

Kitab-kitab ini juga merupakan warisan yang berharga buat anak-anak kita nanti, syukur-syukur bisa sampai cucu cicit. Tidak saja buku-buku, karena ada buku, ada baca, pasti berkaitan dengan Perpustakaan. Keberadaan perpustakaan di dalam rumah ternyata mampu meningkatkan minat baca anak-anak sejak dini. Terkait membaca ini, menurut Taufiq Ismail, mayoritas masyarakat (Indonesia) masih rabun membaca, yang penyebab utamanya adalah hilangnya “mental belajar” di dada mereka dan tiadanya motivasi untuk selalu menuntut ilmu pengetahuan secara terus menerus pada puncak yang paling maksimal. Parahnya kondisi kemampuan membaca masyarakat Indonesia ini telah menyebabkan rendahnya sumber daya manusia mereka, serta munculnya multi dekadensi yang dialami oleh bangsa dalam segala bidang, baik kebudayaan, politik, ekonomi, pendidikan , teknologi, dan sebagainya. Akibat parahnya kemampuan membaca, lebih terasa lagi ketika krisis multi dimensi menghantam dan membelenggu wajah Indonesia. Seakan Indonesia berada di ambang kehancuran. (source : http://blog.umy.ac.id/)

Horror ya dampaknya. Mungkin karena itu perintah membaca dalam konteks agama Islam menempati posisi yang signifikan. Dimulai dari keluarga, hingga memberi sumbangsih positif untuk lingkungan sekitar, lalu semoga mengubah dunia. InsyaAllah manfaat kitab-kitab ini jauh lebih mahal dari harganya. Happy reading! =)

“Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (Sunnah Nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Ahzab : 34)

Perbatasan, 19 Desember 2011

One thought on “Setelah Kasur, Kipas Angin, Rice Cooker, dan seterusnya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s