Live Love Life

Saat Jarak Menjadi (dijadikan) Alasan

“Bilang aja udah pindah ke lain hati hehehe…,” skak saya beberapa hari lalu saat seorang kawan berkesah perihal jarak. Jawaban sambil bercanda, padahal aslinya itu memang jawaban serius saya. Karena setelah berputar-putar dengan berbagai alasan, pada intinya memang sudah ada orang lain yang mengisi hati. Sekalipun jarak cuma 10 meter, kalau memang tidak ada niat dan ikhtiyar (usaha) tidak akan tercapai yang dituju.

Jodoh memang tak kan tertukar. Sekalipun kamu di Batam dan dia di Papua, atau kamu di Ambon dan dia Uganda, kalau memang sudah tertulis di Lauh Mahfuz berjodoh, pasti tak akan kemana. Tapi niat dan ikhtiyar wajibul kudu kita laksanakan. Orang-orang yang berhasil membuang jarak sebagai alasan pastinya mereka orang-orang kaya, loh?

Hehe… maksudnya mereka pasti punya niat dan usaha yang kuat. Yang pacaran aja rela tuh keluar ongkos dari Sumatra ke Nusa Tenggara, dari Papua ke Jawa, dari Inggris ke Jakarta. Padahal untuk sesuatu yang dilarang Agama.

Kalo temen saya yang cowok meng-istilah-kan, “Ternyata selama ini aku biayain bedak istri orang.” Saya dan teman-teman yang lain asli ngakak dengar kalimat ini. Setelah 4 tahun pacaran diakhiri dengan si perempuan menikah dengan lelaki pujaan lain. Dan waktu dan uang yang keluar, hilang tanpa tujuan dan hasil. Sementara waktu tak bisa diulang. Sementara kemana harta, kemana sikap, setiap perbuatan, pasti akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah di hari akhir nanti.

Dari pengalaman sekitar, termasuk kesalahan pribadi, ada 3 hal yang menjadikan seseorang menjadikan Jarak sebagai alasan :

  1. Niat setengah-setengah / ragu-ragu / tidak niat
  2. Sudah pindah ke lain hati
  3. Komplikasi poin 1 dan 2
  4.  Ada yang mau nambah? (hehe…)

Bukan semata diambil dari pengalaman yang gagal dengan mengalasankan jarak, tapi juga saya ambil dari pengalaman orang-orang disekitar yang ternyata berhasil mengesampingkan jarak agar bisa bersatu dalam bingkai yang halal.

Saya temukan senior akhwat yang dipinang oleh seorang senior ikhwan yang tengah menuntut ilmu agama di bumi Afrika, saat itu baru nikah, sudah ditinggal pergi satu tahun, sekarang telah dikaruniai 3 jundi/yah kecil nan lincah.

Saya temukan juga seorang senior akhwat dan ikhwan, satu berasal dari bumi Sulawesi, satu dari Tanah Jawa. Saya temukan juga seorang senior akhwat dan ikhwan, satu dari Pulau Borneo Kalimantan, satu lagi dari tataran Sunda, sekarang menetap di Kalimantan.

Dan saya temukan juga, saat itu belum genap 4 minggu saya dan suami bertaaruf, Papa Mama Mertua jauh-jauh dari Lampung melamar ke Batam. Sementara saya dan suami harus bolak-balik antara Karimun – Batam selama proses berlangsung. Berjarak 1 bulan setengah Papa dan Mama kembali lagi ke Batam untuk mengiringi langkah kami pada acara akad dan walimatul’ ursy. Belum genap dua minggu Ayah dan Ibunda saya sudah terbang ke Lampung untuk membersamai kami di resepsi kedua di rumah mertua. Biaya? Allah punya Rahasia. Rezekinya dari alur yang kadang tak kita duga.

Ketika niat di hati kuat, maka akan terbuka seribu cara.

Ketika niat tidak ada, maka akan tercipta seribu alasan.

Lupa mengutip kata-kata ini dari mana. Ketika kita memiliki niat dan azzam yang kokoh serta tujuan yang jelas, masalah apapun itu dengan Izin Allah semuanya teratasi. Ada saja cara-Nya untuk menolong kita. Begitu yang saya jumpai pada orang-orang disekitar saya. Terang tampak niat mereka yang kuat,  proses yang halal, azzam yang kokoh, konsep rumah tangga dan visi misi yang jelas.

Nikah pake visi misi? Ya iyalah! Lembaga abal-abal aja pake visi misi (walau copy-paste) apalagi nikah yang notabene  sarana kita mencapai surga-Nya.

Saya sendiri? Hehe masih mempersiapkan diri sewaktu-waktu ditinggal suami untuk menuntut ilmu. Semoga niat yang baik dan kesabaran itu selalu ada. Kalo kata Ummu ishaq pada situs assyariah.com, “terpisahnya jarak antara suami dengan istrinya adalah hal lumrah. Terlebih karena didesak oleh kebutuhan dan situasi yang syar’i. Namun demikian seyogianya suami tidak meninggalkan istrinya untuk waktu yang sangat lama. Sebaliknya juga, dibutuhkan kesabaran seorang istri manakala situasi menuntut yang demikian.”

Kamu sendiri? Kalau niat masih setengah-setengah mending dimantepin dulu, kalo ga mantep juga? Berarti, lebih baik dihentikan. Saya pernah merasakan fatalnya sikap ragu-ragu. Ingat, terpaksa atau tidak adalah pilihan kamu sendiri, pilihan kamu sendiri untuk terpaksa, pilihan kamu sendiri untuk rela.

Jika kita yakin bahwa Allah sudah mengatur rezeki kita, mengapa kita tak yakin bahwa Allah sedang menyiapkan jodoh kita di waktu yang tepat dan dengan “proses” yang benar.

Dalam obrolan ringan di kampus seorang teman akhwat dulu pernah berkata, “standar tinggi sih boleh aja, tapi  jangan lupa juga meng-upgrade kualitas diri. “

Maksudnya? Maksudnya, kadang yang laki-laki pengen dapet yang sholehah. Tapi shalat masih bolong-bolong, ngaji sebulan sekali, sholat jamaah jangan ditanya, mau shalat sendirian aja udah syukur, tapi pengennya dapet istri sholehah. Gimana coba.

Sama juga dengan yang wanita. Pengennya dapet suami sholeh. Tapi aurat ga dijaga, pergaulan dengan yang bukan muhrim sembarangan, shalat ga tepat waktu. Jadi gimana?

Ada pengalaman singkat. Pas awal nikah dulu saya kadang suka nanya iseng sama suami, “Bang, setahun satu instansi kenapa kita baru sadar ya ternyata kita jodoh?”

Kemudian suami menjawab, ”Mungkin Allah memberi waktu pada kita untuk memperbaiki diri, Dek.”  :)

Ceritanya, dulu saya ga betah di daerah penempatan saya. Saking ngototnya pengen pindah, dua kali proses taaruf, dua-duanya di luar provinsi. Bayangin coba!😀 Ga kebayang yak. Itulah jika syukur sudah tak menempati hati. Pun kondisi ruhiyah yang drasticly merosot ke fase terendah. Jenuh. Belum lagi masalah hati yang berbelit-belit, sikap ragu yang kemudian berakibat fatal, tak ada kata lain tak ada alasan lain, harus bangkit.

Akhirnya tertatih-tatih kembali menata puing-puing semangat dan memperbaiki yang alpa. Suami pun di tempat yang berbeda (di rumahnya maksudnya) demikian, sedang menggodok diri untuk menjadi yang lebih baik, memperbaiki yang lalai, membangun yang dicita-citakan. Tak ada yang tau, sebulan kemudian Allah telah mempersiapkan rencana istimewa-Nya untuk kami.

Siapa sangka, satu bulan kemudian Allah mempertemukan kami dalam bingkai taaruf, 2 bulan kemudian Allah menyatukan kami dalam bingkai yang halal, pernikahan. Seseorang yang tidak pernah saya sangka-sangka. Seseorang yang ternyata selama ini didepan hidung saya berlalu lalang. Allah punya cara-Nya sendiri. (pasangan lain mau berbagi cerita? =) )

Masa penantian kamu, entah itu terasa lama atau sebentar nantinya, bisa jadi mungkin cara Allah memberi waktu buat kamu untuk memperbaiki diri. Mungkin ia sedang memberi waktu pula dengan dirinya yang entah dimana (entah siapa) untuk menata hati dan niat. Tapi yang harus senantiasa kita ingat, perubahan hanya karena Allah, karena tidak akan bertahan lama jika niat perubahan itu hanya untuk sesuatu yang fana.

Percaya deh, siapa yang kita dapatkan, itu akan sesuai dengan siapa diri kita. Sudah janji-Nya. insyaAllah. Allahu a’lam bish showab.

———————————————————–

“Waspadalah, waspadalah. Setan ada dimana-mana. Jangan berlama-lama.” (Bang haNapi)

Perbatasan Timur, 21 Januari 2012

3 thoughts on “Saat Jarak Menjadi (dijadikan) Alasan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s